Sedimentasi Jadi Penyebab Banjir, PUPR Berau Mulai Normalisasi Drainase 

Tim Reaksi Cepat (TRC) PUPR Berau saat melakukan pengerukan sedimen di saluran drainase sepanjang kawasan Jalan Gatot Subroto (Azwini/Disway Kaltim)

BANJIR yang kerap muncul di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Bedungun, tepatnya di depan kantor DPRD Berau, kembali menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Berau. Kawasan tersebut diketahui hampir selalu terdampak banjir setiap kali hujan deras mengguyur Tanjung Redeb.

Untuk mengurangi persoalan itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Berau mulai melakukan pengerukan sedimen di saluran drainase sepanjang kawasan tersebut. Kepala Dinas PUPR Berau, Fendra Firnawan mengatakan, pengerukan dilakukan setelah pihaknya menemukan sedimentasi cukup tebal di dalam saluran air. Menurutnya, endapan lumpur di beberapa titik bahkan mencapai sekitar 60 hingga 70 centimeter sehingga mempersempit kapasitas drainase dan menghambat aliran air saat hujan turun.

“Untuk sementara yang kita lakukan adalah mengangkat sedimen yang ada di dalam drainase. Memang masih terbatas beberapa meter dulu, nanti dilanjutkan ke drainase seberangnya,” kata Fendra, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, pengerjaan tersebut menjadi langkah awal untuk melihat dampak langsung terhadap kondisi genangan di kawasan Gatot Subroto. PUPR akan melakukan evaluasi setelah hujan kembali turun untuk melihat efektivitas pengerukan.

“Nanti kita lihat saat banjir berikutnya, ada pengaruh atau tidak terhadap pekerjaan pengangkatan sedimentasi ini,” ujarnya.

Fendra mengakui pihaknya belum bisa memastikan genangan akan hilang sepenuhnya. Namun setidaknya, pengerukan sedimentasi diharapkan mampu mengurangi tinggi muka air dan mempercepat aliran air masuk ke drainase.

Selain sedimentasi di drainase, PUPR juga menilai persoalan banjir di kawasan tersebut berkaitan dengan kondisi aliran menuju Sungai Tarum yang selama ini menjadi jalur pembuangan air dari kawasan Gatot Subroto dan sekitarnya.

Menurut Fendra, normalisasi Sungai Tarum sebenarnya menjadi pekerjaan penting untuk penanganan banjir secara menyeluruh. Namun hingga kini, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena terbentur persoalan anggaran dan kondisi permukiman warga di sekitar bantaran sungai.

“Karena bagaimanapun kita perlu normalisasi Sungai Tarum, sebab aliran akhirnya ke sana. Tapi persoalannya kita belum dapat anggaran untuk normalisasi itu,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *