Nelayan Berau Mengeluh Ekspor Ikan ke Luar Negeri Lesu

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Berau, Suriadi Marzuki. (Azwini/Disway Kaltim)

AKTIVITAS ekspor hasil perikanan dari Berau melalui Bandara Kalimarau dinilai mulai menurun. Kondisi tersebut disebut-sebut akibat berkurangnya dukungan penerbangan, yang sebelumnya melayani pengiriman komoditas laut segar ke pasar internasional.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Berau, Suriadi Marzuki menyayangkan hal tersebut. Katanya, selama ini hasil laut asal Berau memiliki pasar ekspor yang cukup luas.

Mulai dari Kuala Lumpur, Hongkong, China hingga Singapura. Komoditas yang dikirim pun beragam. Seperti  ikan bawal, ikan empurau, kepiting bakau hingga udang. Namun, menurutnya, aktivitas ekspor kini tidak lagi berjalan optimal setelah sejumlah penerbangan yang sebelumnya mendukung pengiriman kargo internasional tidak lagi beroperasi.

“Dulu sempat lancar, tapi setelah beberapa flight tidak beroperasi lagi akhirnya teman-teman terkendala melakukan ekspor,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, transportasi udara menjadi faktor penting bagi nelayan dalam distribusi hasil laut, karena berkaitan langsung dengan kualitas produk yang dikirim ke luar negeri. Ketika akses penerbangan terbatas, biaya pengiriman melalui jalur udara menjadi jauh lebih mahal.

Di sisi lain, alternatif pengiriman lewat jalur darat dinilai tidak efektif untuk komoditas perikanan segar, karena membutuhkan waktu tempuh panjang yang berdampak pada kualitas ikan saat tiba di tujuan.

“Kalau lewat darat kualitasnya sudah tidak fresh lagi. Perjalanan bisa sampai 15 jam, tentu sangat berpengaruh terhadap kualitas ikan,” katanya.

Padahal potensi sektor perikanan Berau dinilai sangat besar untuk menopang pasar ekspor. Berau memiliki komoditas unggulan bernilai tinggi seperti kepiting bakau, udang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang selama ini diminati pasar luar negeri.

Karena keterbatasan dukungan transportasi udara di Berau, aktivitas ekspor hasil laut justru lebih banyak dilakukan melalui daerah lain, termasuk Tarakan yang dinilai memiliki akses logistik lebih memadai.

“Ini jadi kendala sebenarnya, padahal hasil kita sangat potensial tapi daya dukung di Berau kurang sementara tingkat ekspor selama ini di Tarakan bukan di Berau,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *