Jumlah pasien gagal ginjal di Kabupaten Bulungan terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang diperoleh media ini, terdapat sekitar 35 pasien yang rutin menjalani cuci darah di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan.
“Kalau di Bulungan alatnya sudah benar-benar mencukupi, tentu mereka tidak perlu lagi ke Tarakan,” kata Albertus Stefanus Marianus Baya, warga Tanjung Selor.
Dengan terus bertambahnya pasien cuci darah atau hemodialisis (HD), anggota Komisi I DPRD Kaltara, Hamka, mendorong pemerintah mempercepat peningkatan fasilitas layanan di seluruh kabupaten dan kota di Kaltara.
Selain layanan kesehatan yang ditanggung BPJS, ujarnya, pemerintah juga perlu memperhatikan beban biaya transportasi dan akomodasi yang masih harus ditanggung pasien saat menjalani pengobatan di luar daerah.
“Seperti ongkos transportasi dan akomodasi. Hal inilah yang kita dorong pemerintah supaya diperhatikan dengan serius. Kita perlu dukungan dan peran pemerintah dalam mempercepat layanan bagi pasien dengan diagnosa HD,” kata Hamka, Rabu (15/7/2026).
Sementara itu, Direktur RSUD dr. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor, dr. Widodo, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan gedung HD baru yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun ini.
“Kapasitasnya diperkirakan dapat menampung sekitar 13 sampai 14 tempat tidur,” kata Widodo.
Ia menjelaskan, pembangunan fisik gedung telah rampung dan diserahterimakan kepada pihak rumah sakit. Saat ini, proses yang sedang dipersiapkan meliputi penambahan mesin hemodialisis, pembangunan instalasi Reverse Osmosis (RO) sebagai sistem penyedia air steril, hingga persiapan kredensial BPJS Kesehatan sebelum layanan dipindahkan ke gedung baru.
Untuk layanan HD di RSUD Tanjung Selor, saat ini baru didukung tujuh unit mesin, meningkat dari empat unit saat pertama kali dibuka sekitar dua tahun lalu. Meski demikian, kapasitas tersebut belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan pasien.
“Persiapannya sudah memasuki tahap penambahan unit HD untuk memenuhi kekurangan kapasitas yang selama ini masih terjadi,” ujarnya.
Widodo menambahkan, sebagian pasien juga masih menjalani proses pembentukan akses pembuluh darah atau operasi Cimino sehingga untuk sementara tetap menjalani terapi di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan.
“Target kami akhir tahun mudah-mudahan sudah bisa pindah ke gedung baru dengan kapasitas yang lebih besar,” pungkasnya. (Muhammad Efendi)












