
Budidaya rumput laut di Kabupaten Berau terus berkembang dan mulai menjadi salah satu sektor unggulan yang menopang transformasi ekonomi daerah. Dinas Perikanan Berau mencatat, produksi rumput laut kering dari Kampung Karangan, Kecamatan Biatan, telah memasok pasar ekspor dengan volume 160 hingga 360 ton per tahun.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan budidaya rumput laut kini dikembangkan di lahan seluas sekitar 60 hektare yang dikelola sekitar 40 rumah tangga perikanan. Menurutnya, komoditas ini diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru di luar sektor pertambangan.
“Rumput laut menjadi salah satu sektor unggulan budidaya yang kami dorong menuju hilirisasi dan transformasi ekonomi dari sektor tambang ke sektor perikanan maupun pertanian,” ujarnya.
Budiono menjelaskan, permintaan dari pasar internasional, khususnya China dan Hong Kong, terus meningkat. Saat ini ekspor masih dilakukan melalui jalur transit Tarakan, Surabaya, dan Makassar dengan rata-rata pengiriman sekitar 40 ton setiap tiga bulan.
Selain memiliki pasar yang luas, budidaya rumput laut dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan pakan tambahan. Harga jualnya pun cukup kompetitif, mulai Rp5.000 per kilogram untuk rumput laut basah, Rp11.000-Rp12.000 per kilogram untuk rumput laut kering, hingga sekitar Rp15.000 per kilogram untuk pasar ekspor.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mendukung pengembangan budidaya rumput laut sebagai bagian dari upaya diversifikasi ekonomi daerah. Menurutnya, potensi kelautan Berau harus terus dioptimalkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan pasar, serta penguatan hilirisasi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Berau juga menyiapkan program peningkatan kapasitas pembudidaya.
“Tahun ini, lima pembudidaya rumput laut dijadwalkan mengikuti pelatihan di Balai Besar Budidaya Rumput Laut Takalar, Sulawesi Selatan,” pungkansya. (ADV/TR/ARIE)












