
Dinas Perikanan Kabupaten Berau menargetkan 6 kampung jadi sentra budidaya ikan dengan sistem bioflok melalui program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan Kampung Labanan Jaya dan Labanan Makmur menjadi dua lokasi pertama yang telah diusulkan. Selain itu, Pemkab Berau juga mengajukan Kampung Melati Jaya dan Kampung Sukan. Sementara dua lokasi lainnya akan dipilih dari kawasan utara Berau, seperti Tanjung Batu, Kasai, Semanting, atau Pegat Batumbuk, dengan mempertimbangkan kesiapan lahan.
“Target kami enam kampung agar mewakili wilayah utara, tengah, dan selatan sehingga pengembangan budidaya bioflok dapat berjalan merata,” ujarnya.
Program bioflok, merupakan program nasional hingga 2029 dengan target 4.000 koperasi desa di seluruh Indonesia. Bantuan yang diberikan bersifat hibah penuh dari KKP sehingga tidak menggunakan dana desa. Salah satu syarat penerima program adalah tersedianya lahan sekitar 1.000 meter persegi.
Tahap awal, koperasi diwajibkan membudidayakan ikan nila dan lele. Setelah menyelesaikan satu siklus produksi, koperasi dapat mengembangkan komoditas lain sesuai potensi daerah, seperti patin, ikan mas, maupun ikan laut.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas mendukung, pengembangan budidaya ikan bioflok sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat desa.
Menurutnya, kolaborasi pemerintah pusat dan daerah melalui Koperasi Desa Merah Putih menjadi peluang untuk menciptakan usaha perikanan yang produktif, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian ekonomi kampung di Kabupaten Berau.(ADV/TR/ARIE)












