Palung Langit

Oleh: Dahlan Iskan

Dalam satu minggu kemarin saya membaca dua ulasan buku baru, yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Saya pun tidak mampu membacanya: ditulis dalam bahasa Arab dengan tulisan tanpa harakat. Hanya orang-orang yang ilmu nahwunya jagoan yang bisa melafalkan kalimat-kalimatnya dengan benar.

Penulisnya Anda sudah kenal: KH Miftachul Akhyar. Ia Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru terpilih untuk periode kedua di Muktamar Tambak Beras, Jombang bulan lalu: jabatan tertinggi di organisasi Islam terbesar di dunia itu.

Judul buku itu: Al-Fatḥatu al-Rabbāniyyah ‘alā al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah. Kurang lebih berarti ”Penjelasan aspek Ketuhanan dalam kitab Muqaddimah Jurumiyah”.

Nah, Anda sudah tahu apa itu kitab Jurumiyah. Semua santri pernah mempelajarinya: itu adalah buku dasar-dasar tata bahasa Arab. Penulisnya orang Maroko: Ibnu Ajjurum. Tapi jangan bayangkan seperti buku pelajaran tata bahasa. Formatnya kaidah-kaidah tata bahasa. Membacanya dilagukan: kataba-katabaa-katabuuu-katabat-katabata-katabna-katabta-katabtuma-katabtum ….. dan seterusnya. Satu kata ”kitab” bisa berubah menjadi banyak kata bentukan.

Yang ditulis KH Miftachul Akhyar bukan buku tentang tata bahasa Arab. Yang ia tulis adalah ”sisi ketuhanan” dari sebuah buku tata bahasa. Kalau sudah bicara sisi ketuhanan berarti sama dengan membahas ”aspek tasawuf dari buku nahwu Jurumiyah”. Mungkin satu-satunya: buku tata bahasa mengandung aspek ketuhanan.

Terbitnya buku ini tentu mengingatkan apa yang terjadi di Muktamar ke-35 NU. Utamanya setelah Rais Aam memberi sambutan pembukaan. Dalam sekejap saja video anak perempuan yang mengaku masih SD itu viral. Isinya: mengoreksi tata bahasa Arab yang digunakan oleh Rais Aam dalam pidatonya. Menurut anak itu setidaknya ada lima kesalahan tata bahasa dalam pidato itu. Berani sekali anak itu. Kok hebat: merasa lebih pandai dari Rais Aam PBNU.

“Apakah itu hoak? Video palsu? Buatan AI?” tanya saya kepada seorang alumni Timur Tengah yang juga angkatan muda NU.

“Memang terjadi kesalahan tata bahasa dalam pidato itu,” jawabnya. “Tapi kan biasa orang salah menggunakan tata bahasa. Termasuk orang Arab sendiri,” tambahnya. “Tokoh Indonesia pun banyak yang salah tata bahasa ketika berpidato dalam bahasa Indonesia,” katanya lagi.

Salah satu tokoh yang mengulas buku karya Kiai Miftachul Akhyar itu adalah KH Zulfa Mustofa. Anda sudah kenal dirinya: pernah dipuji sekaligus dihujat dalam kaitan dengan konflik besar di PBNU: mengapa Kiai Zulfa bersedia menjadi Pj Ketua Umum Tanfidiyah PBNU menggantikan Gus Yahya yang dipecat oleh Rais Aam Miftachul Akhyar.

Kiai Zulfa menulis ulasan panjang tentang buku itu. Ia mendapatkan bukunya karena pernah dibagi di kantor PBNU. Di tulisan itu Kiai Zulfa menceritakan pengalamannya ketika bersama Kiai Miftachul Akhyar pergi keliling beberapa negara termasuk Turkiye.

Di Turkiye rombongan PBNU diterima oleh ulama besar di sana: seorang mufti yang juga menjabat menteri agama.

Dalam pertemuan itu Kiai Miftah lebih banyak diam. Kiai Zulfa pun menjelaskan ke tuan rumah bahwa karakter Kiai Miftah memang pendiam. Jawaban mufti Turkiye ternyata sangat diplomatis: “Sesungguhnya beliau banyak berbicara dengan keadaannya, bukan dengan lisannya”.

Itu, kata Kiai Zulfa, sangat tepat untuk menggambarkan sosok Kiai Miftah. “Itu juga tercermin di dalam buku karya beliau,” ujar Kiai Zulfa.

Misalnya, di buku itu ditulis: “Orang punya kewajiban memperbaiki hati setelah memperbaiki lisan,” dan juga “memperbaiki lisan tanpa memperbaiki hati adalah kefasikan dan kesesatan. Memperbaiki hati tanpa memperbaiki lisan adalah kesempurnaan yang belum sempurna. Sedangkan memperbaiki keduanya sekaligus adalah puncak kesempurnaan”.

Apakah buku yang ditulis Kiai Miftah itu tergolong baru? Ternyata tidak. Sudah banyak buku serupa terbit di banyak negara Islam.

Kiai Zulfa sendiri sudah menulis empat buku. Semuanya tentang ushul fikih. Padahal kiai Zulfa ”hanya” tamatan Aliyah (SMA). Kemampuan bahasa Arabnya luar biasa. Sampai ia mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Yakni doktor dalam sastra Arab. Itu tentu istimewa: Kiai Zulfa tidak pernah sekolah di negara Arab. Aliyahnya ia selesaikan di Pati, satu kelas dengan Gus Rozin yang juga terpilih sebagai Rais Syuriah PBNU.

“Kelemahan buku karya ulama-ulama Indonesia adalah kurang memasukkan konteks Indonesia,” ujar Kiai Zulfa yang ceramah-ceramahnya sangat sejuk –lebih banyak mengungkap sisi persamaan NU dan Muhammadiyah dari pada sisi perbedaannya.

Satu tokoh lagi yang mengulas buku itu adalah KH Imam Jazuli, pendiri pondok pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon. Kiai Jazuli alumnus Mesir.

“Bagi kaum awam, ilmu nahwu hanyalah sekadar ornamen tata bahasa. Ia sekadar aturan agar lisan fasih mengeja bait-bait Arab. Namun, di bawah guratan pena Kiai Miftach, Nahwu menjelma menjadi suluk. Beliau menegaskan bahwa kefasihan lisan wajib bersanding dengan kefasihan tindakan (hlm.3-5). Pandangan sufistik ini menampar wajah buram panggung politik nasional kita. Para pemimpin kita hari ini terlalu gemar bersilat lidah. Mereka kerap terjebak dalam labirin retorika kosong tanpa makna”, tulisnya.

“Kiai Miftach kemudian membedah trilogi kata dengan pisau bedah tasawuf. Beliau mengulas unsur ‘isim’, ‘fi’il’, dan ‘huruf’ dalam tata bahasa ke ruang publik. Isim dimaknai sebagai ketulusan orientasi menghamba kepada Tuhan Yang Maha Esa (hlm.28). Madzhab ini mewajibkan pengelolaan bumi demi tegaknya keadilan sosial yang merata. Berkah nikel dan tembaga bukanlah hak milik privat para oligarki. Hasil bumi harus dialirkan murni untuk membasuh dahaga kemiskinan rakyat”.

“Sementara Fi’il ditafsirkan sebagai jihad membersihkan batin dari kekotoran (hlm.29). Dalam urusan bernegara, ini adalah gerakan pembersihan birokrasi secara radikal. Indonesia mustahil memeluk predikat negara maju jika penyakit korupsi mewabah. Tobat nasuha para pengambil kebijakan menjadi syarat mutlak kebangkitan bangsa. Ikhtiar ekonomi hijau hanya tegak jika ketamakan manusia berhasil diredam. Tanpa moralitas, regulasi secanggih apa pun hanyalah bangkai tanpa nyawa.

Sedangkan Huruf digambarkan sebagai ufuk cita-cita tinggi yang wajib diperjuangkan (hlm.30). Menjadi bangsa digdaya adalah mimpi kolektif yang menuntut tebusan pengorbanan. Demi menjemput asa itu, Kiai Miftach merajut filosofi huruf-huruf Jarr (hlm.44-47). Rangkaian huruf jarr ini adalah cermin dinamis perjalanan spiritualitas bangsa. Tiap jengkal fase pembangunan menyimpan ujian dan keunikan batin tersendiri. Kita mesti mengarungi tiap anak tangga itu dengan zikir kesadaran”.

Itulah kelebihan bahasa Arab. Bahasa sekaligus keyakinan.

Di Tarim, Yaman, saya kali pertama melihat buku yang bisa dibaca dari kiri, dari kanan, dari atas, dari bawah yang masing-masing menjadi sebuah buku yang berbeda topiknya.

Rasanya hanya bahasa Arab yang bisa dibuat begitu. Atau, karena bahasa Arab terkait dengan keyakinan, maka orang-orang yang mendalami bahasa Arab bisa sangat dalam.

Kalau dalam penguasaan bahasa Mandarin ada istilah ”di atas langit masih ada langit”, dalam bahasa Arab harusnya ada pepatah ”di kedalaman palung masih ada palung yang lebih dalam”.

Entahlah di mana posisi Bahasa Inggris dan Indonesia. (Dahlan Iskan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *