Bereskan Persoalan Dulu

Kaltim Siapkan 12 Proyek Investasi

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK)-Dok Nosa

Potensi investasi di Kalimantan Timur (Kaltim) cukup tinggi, ada 12 proyek yang bisa ditawarkan, namun apapun yang menjadi persoalan di lapangan, pemerintah daerah target selesai terlebih dahulu.

—————————

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menyiapkan 12 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) untuk ditawarkan kepada calon investor. Penyiapan proyek tersebut menjadi bagian dari penguatan Regional Investment Relations Unit (RIRU) Kaltim 2026.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengatakan, potensi investasi yang dimiliki daerah harus diikuti kesiapan proyek. Pemerintah daerah perlu memastikan berbagai persoalan sudah ditangani sebelum proyek ditawarkan kepada investor agar peluang investasi dapat berlanjut hingga tahap realisasi.

“Kalau kita sudah punya potensi, tinggal bagaimana kita kemas menjadi sesuatu yang menarik bagi investor,” kata Seno,belum lama ini.

Menurut Seno, penyusunan IPRO menjadi salah satu bagian penting dalam agenda RIRU Kaltim. Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota terus menyiapkan informasi proyek secara lebih lengkap agar investor memperoleh gambaran yang jelas mengenai peluang yang ditawarkan.

“Dalam RIRU, kami membuat IPRO dan saat ini sudah ada 12 proyek yang siap ditawarkan. Ke depan, proyek-proyek ini akan terus dikaji agar informasinya lengkap dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Seno menegaskan, kesiapan proyek juga berkaitan dengan penyelesaian tata ruang. Pemerintah daerah terus mendorong penyelesaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk memberikan kepastian terhadap lokasi dan arah pengembangan investasi.

“Jangan sampai nanti ketika investor datang, masih ada persoalan-persoalan yang belum selesai. Itu yang harus kita bereskan terlebih dahulu,” jelasnya.

Dalam agenda penarikan investasi, Pemprov Kaltim menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kutai Timur, sebagai salah satu prioritas utama. Kawasan tersebut diarahkan untuk pengembangan industri pengolahan kelapa sawit, energi, dan kegiatan logistik.

Selain KEK MBTK, pemerintah daerah juga menempatkan Kawasan Industri Kariangau di Balikpapan, kawasan industri Bontang, serta sejumlah proyek hilirisasi komoditas daerah sebagai bagian dari fokus promosi investasi Kaltim.

KEK MBTK memiliki luas sekitar 557,34 hektare dan secara historis diproyeksikan menjadi kawasan pengembangan industri pengolahan kelapa sawit, energi, dan logistik. Kawasan tersebut sebelumnya diproyeksikan menarik investasi hingga Rp37,71 triliun serta menyerap sekitar 55.700 tenaga kerja.

Namun, realisasi investasi tetap membutuhkan kesiapan lahan, infrastruktur, utilitas, serta kepastian proyek dari pelaku usaha. Pemerintah daerah perlu memastikan seluruh aspek tersebut dapat mendukung proyek sebelum investor masuk ke kawasan.

Kawasan Industri Kariangau di Balikpapan juga dikembangkan secara terintegrasi dengan Kawasan Industri Buluminung di Penajam Paser Utara. Kedua kawasan tersebut menjadi bagian dari kawasan strategis provinsi di sekitar Teluk Balikpapan dengan luas area pengembangan mencapai 2.721 hektare.

Sementara itu, salah satu proyek yang memperkuat agenda hilirisasi Kaltim adalah pembangunan pabrik gasifikasi batu bara menjadi metanol di Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kutai Timur. Proyek Strategis Nasional tersebut telah memasuki tahap groundbreaking pada 31 Agustus 2026.

Fasilitas yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical itu ditargetkan mampu memproduksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Produksi tersebut membutuhkan bahan baku batu bara berkalori rendah sekitar 7,70 juta hingga 7,78 juta ton per tahun.

Penyiapan proyek tersebut kemudian diarahkan dalam roadmap RIRU Kaltim 2026–2028. Roadmap tersebut membagi agenda pengembangan investasi dalam tiga tahapan yang saling berkelanjutan.

Tahun 2026 difokuskan pada tahap persiapan dan perencanaan. Selanjutnya, 2027 diarahkan untuk pengembangan dan pelaksanaan, sedangkan 2028 menjadi tahap pemantauan dan realisasi investasi.

Proyek yang sudah memiliki kesiapan tetap terbuka untuk direalisasikan lebih awal. Penawaran proyek juga akan diperkuat melalui Mahakam Investment Forum (MIF) 2026 yang direncanakan berlangsung pada Oktober.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, proyek yang telah memenuhi kategori IPRO akan dibawa dalam forum tersebut. MIF diharapkan mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor dari dalam maupun luar negeri.

“Hasil penyiapan proyek itu akan dibawa ke Mahakam Investment Forum 2026 yang direncanakan berlangsung Oktober. Forum tersebut akan mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor dari dalam maupun luar negeri,” kata Jajang.

Melalui forum tersebut, proyek yang telah masuk kategori IPRO akan ditawarkan kepada calon investor. Penawaran itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan proyek daerah dengan peluang kerja sama investasi yang memiliki prospek untuk dikembangkan.

Di tengah penguatan investasi, perekonomian Kaltim diperkirakan tetap tumbuh positif sepanjang 2026. BI Kaltim memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah berada pada kisaran 2,5 persen hingga 3,5 persen.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim Bayu Adi Hardiyanto mengatakan industri pengolahan menjadi salah satu sektor yang berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Peningkatan kapasitas pengilangan migas melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan menjadi salah satu penggeraknya.

Pengembangan industri turunan migas serta investasi swasta di kawasan industri dan KEK juga dinilai dapat menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Proyek Soda Ash di Bontang menjadi salah satu kegiatan yang berpotensi memperkuat aktivitas konstruksi seiring perkembangan pelaksanaannya.

Sektor pertanian dan pertambangan juga masih memiliki peluang untuk menopang ekonomi Kaltim. Penguatan permintaan CPO domestik melalui pengembangan biodiesel berpotensi mendukung industri pengolahan kelapa sawit sekaligus menjaga kinerja sektor perkebunan.

Sementara itu, permintaan energi dari negara mitra dagang serta peluang relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dapat mendukung produksi dan ekspor batu bara.

“Untuk menjaga momentum tersebut, perkembangan kuota produksi, biaya energi dan logistik, serta kondisi cuaca tetap harus kita cermati,” ujarnya.

Bayu menambahkan pertumbuhan ekonomi Kaltim ke depan perlu didukung sumber pertumbuhan yang semakin beragam. Sektor sumber daya alam tetap memiliki peran penting, sementara pariwisata juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.(ARI RACHIM/ARIE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *