Sabtu sore lalu itu, saya diminta ikut pertemuan di Surabaya. Lokasinya di Hotel Sheraton, masih satu kawasan dengan pusat perbelanjaan terpadu Tunjungan Plaza (TP) yang populer itu. Sore sekitar pukul 15.00 saya tiba di lobi hotel. Mas Tomy Gutomo, CEO Harian Disway meminta saya menunggu selesai kegiatan workshop.
Kebetulan Founder Harian Disway Dahlan Iskan menjadi pengampu dalam worshop Disway Family Constitusion Workshop. Pesertanya terbatas. Hanya 60 orang. Mereka adalah para pelaku usaha dari berbagai daerah. Yang paling banyak justru peserta dari Jakarta dan sekitarnya.
Acara itu juga menghadirkan Dr Hadi Cahyadi, konsultan dan pakar bisnis keluarga. Kemudian ada guest speakers Bambang Sutantio, Founder & President Commissioner Cimory Group.
Saya menyempatkan ikut di sesi akhir workshop. Para peserta terlihat sibuk berdiskusi di mejanya masing-masing. Dibuat melingkar. Terlihat ada sekitar 7 meja. Mereka rupanya dibagi per kelompok. Melakukan simulasi untuk membangun konstitusi keluarga supaya bisnis keluarganya bisa bertahan hingga lintas generasi.
Saya merenung sejenak, ternyata tema-tema diskusi keluarga seperti ini menjadi bahan menarik. Terutama bagi mereka yang memiliki bisnis keluarga supaya bisa bertahan lama. Peserta pun terlihat santai dan antusias.
Selama ini saya banyak terjebak dalam diskursus seperti sulitnya pelaku usaha tumbuh karena regulasi yang berubah-ubah, pajak yang semakin ketat, gejolak PHK massal. Atau ini; kepala daerah yang lagi puyeng karena anggarannya dipangkas, poduksi tambang menurun, gaji honorer dan PPPK yang terancam. Dan ini; dilema PNS atau pejabat daerah yang disuruh milih pangkas PPPK atau tunjangannya dipotong.
“Selama ini banyak bisnis keluarga yang hancur di generasi ketiga. Masuk ke cucu biasanya semangatnya menurun. Dan akhirnya banyak yang tidak berlanjut,” kata Tomy, yang duduk di samping saya.
Beberapa contoh bisnis keluarga kini yang dikenal sukses berkembang dan berlanjut ke generasi berikutnya, anda sudah tahu, seperti Keluarga Hartono, Djarum. Bergerak di industri rokok hingga menjadi pemegang saham pengendali bank besar dan ritel modern.
Kemudian ada Keluarga Salim, Salim Group, menguasai sektor consumer goods (Indofood), perkebunan hingga jaringan ritel. Keluarga Widjaja, Sinar Mas, fokus pada pulp dan kertas, agribisnis, jasa keuangan serta pengembang properti. Dan Keluarga Ciputra, Ciputra Group, menjadi ikon pengembang perumahan dan kota mandiri skala besar di berbagai wilayah.
Namun tidak semua bisnis keluarga yang sesukses mereka. Bahkan sebagain besar harus ambruk karena tidak menyiapkan generasi berikutnya yang memiliki semangat yang sama. Terutama masuk ke generasi ketiga; cucu. Semengat dalam pengembangan bisnis keluarga mulai melemah. Apalagi jika jumlah anaknya banyak dan cucunya banyak. Pertanyaanya, siapa yang akan menjadi penerus berikutnya?
Itulah pentingnya membangun konstitusi keluarga yang dibahas dalam workshop tersebut. Bagaimana agar bisnis keluarga bisa bertahan melewati tiga generasi.
“Salah satu penyakitnya adalah ‘hantu bantal’,” kata Tomy.
Ilustrasinya begini; misalnya punya 3 anak, kemudian anak punya 6 cucu. Singkatnya ke-6 cucu itu punya pasangan (suami/istri), biasanya banyak bisikan-bisikan yang akan memicu konflik. Kok cucu A dapat ini, punya itu. Sementara cucu B tidak dapat. Rasa iri itu akan menjadi pemicu konflik keluarga dan hancurnya kerajaan bisnis sang kakek.
“Bagaiamana menyelesaikan penyakit ‘hantu bantal’ ini?,” tanya saya.
“Ya, salah satunya harus punya family konstitusi ini,” jawab Tomy.
Nantinya dalam family konstitusi harus diatur, yang menjadi penerus harus punya pencapaian tertentu. Misalnya dari sisi pendidikan harus bergelar doktor. Kemudian pernah memimpin divisi tertentu dalam bisnis yang berhasil. Itu tergantung kesepakatan yang dituangkan dalam konstitusi keluarga.
Jika semua anggota keluarga memahami dan disiplin patuh pada konstitusinya, bukan tidak mungkin bisnis keluarga tersebut akan berjalan bukan hanya berhenti di 3 generasi, tapi bisa sampai 6 generasi berikutnya.
“Mas Devi, lihat peserta yang lurusan sampean itu,” sapa Thoriq S Karim, bagian event Harian Disway.
“Yang mana?”. Lurus kesamping, ke depan atau nyerong.
“Yang itu, yang baju hitam”. Ternyata agak nyerong dan terhalang peserta lainnya.
“Itu masih berusia 14 tahun, dia sudah mimpin perusahaan. Yang disampingnya, itu bapaknya,” katanya.
Kata Thoriq, anak itu sudah dikader bapaknya sejak kecil, dan kini sudah bisa meneruskan perusahaan bapaknya itu. Dia enggak ikut sekolah formal, tapi home schooling.
Jadi, sekolah formal enggak penting dalam bisnis?
“Tapi, kata Pak Bambang (owner Cimory Group, Red.), sekolahnya perlu dibereskan karena menjadi CEO tidak hanya berhadapan dengan karyawan, tapi investor,” sebut Thoriq, mengutip sesi interaksi di workshop yang disimaknya.
Sayang sekali saya tidak bisa hadir dari awal, hanya kebagian sesi akhir, penutup. Pun Itu di sela menunggu pertemuan saja yang dijadwalkan setelah selesai workshop.
Saya pun berbisik sama Tomy, apa kegiatan seperti ini bisa juga digelar di Kalimantan Timur (Kaltim). Sepertinya menarik. Fenomenanya sama. Di Kaltim banyak pebisnis sukses yang sudah masuk generasi kedua dan ketiga. Banyak haji-haji yang sukses puluhan tahun membangun bisnisnya.
“Ya sejatinya, Disway itu ya seperti ini,” kata Tomy. Kami pun bersepakat membahas lebih lanjut terkait rencana workshop serupa di Kaltim. Paling tidak bisa dilakukan di Balikpapan atau Samarinda. Apalagi saat ini ada IKN.
Kemudian saya menyimak kelompok terakhir yang presentasi ke depan. Membeberkan hasil pembahasan konstitusi keluarganya. Selintas saya mendengar bahwa generasi penerus jangan ujug-ujug memimpin, tapi perlu diuji dulu di berbagai divisi perusahaan minimal 6 bulan.
Perwakilan kelompok itu menyebut perlu dibentuknya Dewan Keluarga yang mengusulkan kebijakan strategis, kemudian turun ke Dewan Direksi untuk dikaji lebih lanjut.
Abah Dahlan Iskan menutup sesi workshop. Ia menyampaikan begini: Pendidikan itu penting untuk memahami metodologi dan sistematika. Hanya saja, terkadang banyak orang terjebak dalam alur metodologi dan sistematika itu sehingga improvisasinya tidak tumbuh.
Nilai tinggi dalam pendidikan itu, kata Abah, hanya menujukkan kapasitas berpikir seseorang. Kalau nilainya bagus, itu berarti kapasitas berpikirnya tinggi. Tapi tidak cukup itu, perlu juga kreativitas dan improvisasi dalam pengembangan bisnis.
“Nanti kalau bisnisnya jalan, kita bisa mempekerjakan orang yang punya metodologi dan sistematisasi berpikir baik, supaya bisa menjaga perusahaan,” imbuhnya.
Bagaimana dengan Anda?












