DI tengah popularitas wisata bahari Berau, tersimpan potensi lain yang selama ini belum banyak terekspos. Jauh dari kawasan pesisir dan pulau wisata, Hutan Kampung Tubaan ternyata menjadi habitat alami berbagai jenis anggrek endemik khas Kalimantan.
Namun keberadaan flora tersebut perlahan mulai terancam. Maraknya tren tanaman hias dalam beberapa tahun terakhir membuat anggrek di kawasan itu diburu untuk diperjualbelikan hingga dipasarkan keluar daerah. Kondisi itu menyebabkan populasi anggrek di habitat aslinya mengalami penurunan.
Pemkab Berau kini mulai mengambil langkah konservasi dengan mengembangkan konsep wisata berbasis pelestarian lingkungan di kawasan tersebut. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), menyiapkan program wisata bertajuk Orchid Guardian Trip yang menggabungkan wisata alam dengan upaya penyelamatan anggrek endemik.
Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir mengatakan, pihaknya melihat Kampung Tubaan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata konservasi. Karena itu, arah pengembangan pariwisata di kawasan tersebut tidak lagi hanya berfokus pada kunjungan wisatawan, tetapi juga pada perlindungan ekosistem hutan.
“Tubaan ini sebenarnya dikenal sebagai habitat alami berbagai jenis anggrek endemik Kalimantan. Tetapi karena sempat banyak dieksploitasi, populasinya sekarang mengalami penurunan cukup drastis,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Menurut Samsiah, konsep wisata yang tengah disiapkan tidak sekadar menawarkan pengalaman menikmati alam, tetapi juga membawa misi edukasi dan konservasi lingkungan. Nantinya, wisatawan akan diperkenalkan dengan berbagai jenis anggrek khas Kalimantan sekaligus diajak melakukan penanaman kembali di habitat aslinya.
Sistem adopsi anggrek juga akan diterapkan agar pengunjung memiliki keterlibatan langsung dalam upaya pelestarian.
“Wisatawan nanti bukan sekadar datang untuk menikmati alam atau healing, tetapi ikut berkontribusi menjaga keberlangsungan anggrek di Hutan Tubaan,” katanya.
Selain itu, program tersebut juga disiapkan agar mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui keterlibatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam pengelolaan kawasan wisata konservasi tersebut.
Saat ini Samsiah mengaku pihaknya masih melakukan simulasi dan pematangan program sebelum resmi dipromosikan sebagai destinasi wisata baru.
“Kami berharap konsep ini bisa berjalan mandiri dengan mengedepankan edukasi, konservasi, dan perlindungan hutan,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)












