Terendah tapi Tetap Waspada

Gubernur Kaltara Zainal A. Paliwang ikut memadamkan karhutla di Tanjung Selor, beberapa hari lalu.//IST

Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) yang tercatat hingga Juli 2026 lalu, terendah di Kalimantan.

Menurut data Opsroom Sipongi yang dihimpun Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara, luas indikasi kebakaran di Kaltara mencapai 400,62 hektare atau sekitar 0,70 persen dari total karhutla se-Kalimantan.

Angka tersebut juga hanya sekitar 0,20 persen dari total indikasi kebakaran nasional yang mencapai 202.004,32 hektare.

Di regional Kalimantan, luas karhutla di Kalimantan Barat tercatat seluas 38.310,86 hektare, Kalimantan Selatan 8.019,63 hektare, Kalimantan Tengah 7.634,46 hektare, Kalimantan Timur 2.715,76 hektare, dan 400,62 hektare di Kaltara.

Namun, luas indikasi karhutla di Kaltara secara kumulatif meningkat dari 41,61 hektare pada Januari menjadi 66,59 hektare pada Februari. Sedangkan pada Maret tercatat 69,25 hektare, 124,17 hektare pada April, 196,59 hektare pada Mei, 315,12 hektare pada Juni, serta 400,62 hektare pada Juli.

Meski menjadi daerah dengan luasan karhutla terendah di Kalimantan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara tetap meningkatkan kewaspadaan.

Terlebih, berdasarkan pemantauan satelit NASA-NOAA20 dan NASA-SNPP per 5 September 2026, terdeteksi 14 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan sedang (medium) di Kabupaten Bulungan.

Hotspot tersebut tersebar di Kecamatan Tanjung Selor sebanyak tujuh titik di Desa Jelarai Selor, Kecamatan Tanjung Palas Tengah tiga titik di Desa Tanjung Buka, serta Kecamatan Tanjung Palas Timur empat titik yang terdiri dari dua titik di Desa Binai, satu titik di Desa Sajau Hilir, dan satu titik di Desa Mangkupadi.

“Kita tidak boleh lengah. Memasuki September, kesiapsiagaan personel patroli dan tim respons cepat terus ditingkatkan,” kata Kepala Dishut Kaltara, Nurlaila, dikutip dari laman Diskominfo Kaltara, Minggu (6/9/2026).

Ia juga menegaskan bahwa pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Tidak hanya pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga masyarakat, pelaku usaha, hingga aparat desa.

Dishut Kaltara, lanjutnya, terus memperkuat patroli pencegahan, pengawasan wilayah rawan, pemantauan titik panas, serta sosialisasi kepada masyarakat, untuk memastikan setiap indikasi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti. (fen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *