Fasilitas PPI Sambaliung Rawan Dan Tak Memadai, Pemprov Janji Benahi

Kunjungan pejabat-pejabat terkait dari Pemprov Kaltim, yang didampingi Ketua HNSI Berau Suriadi Marzuki, melihat kondisi PPI Sambaliung.

Dermaga Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sambaliung, Kabupaten Berau, sudah tak layak adanya aktivitas bongkar muat, namun masih dipaksakan untuk digunakan. Keselamatan adalah faktor utama, yang perlu pertimbangkan. Lalu, kapan akan dilakukan perbaikan?

————————

SUDAH 20 tahun, belum tersentuh perbaikan, tiang-tiang dermaga sudah banyak yang rapuh, dan nyaris patah. Begitulah kondisi dermaga Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sambaliung Kabupaten Berau.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Berau, Suriadi Marzuki mengaku, menyampaikan usulan perbaikan ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) saat kunjungan kerja Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud ke Kabupaten Berau, beberapa waktu lalu.

Saat peninjauan bazar ikan, yang dilaksanakan HNSI dan Dinas Perikanan Berau, pihaknya diminta menyampaikan keinginan atau kebutuhan para nelayan yang sekira mendesak. Karena itulah, usulan perbaikan dermaga PPI muncul, termasuk perlunya pembangunan pabrik es.

“Akan dibantu, di perubahan ini DED-nya, tahun depan kemungkinan untuk pembangunannya,” kata mantan anggota DPRD Berau ini.

Setelah usulan permintaan tersebut, beberapa pejabat terkait di Pemprov Kaltim, langsung meninjau kondisi dermaga PP di Sambaliung. Di mana dari Dinas Perikanan maupun HNSI ikut mendampingi.

“Dari diskusi di lapangan, kami meminta untuk dibangun ulang atau dermaga cor beton yang lebih kokoh. Sehingga bahasanya bukan lagi perbaikan, apalagi jembatan sudah 20 tahun kondisinya saat ini sudah tak layak,” jelasnya.

Yang perlu jadi perhatian kata Suriadi, kondisi saat ini juga, ketika air surut, aktivitas bongkar muat ikan mengalami kesulitan. Karena sekitar dermaga mengalami pendangkalan. Apalagi, kapal yang sandar juga cukup banyak ukuran besar 30 GT.

“Kalau kapal kecil ada juga, untuk nyandar susag memang. Nunggu air pasang,” jelasnya.

Selain dermaga PPI, kebutuhan yang mendesak dan sudah disampaikan dari HNSI, kata Suriadi, adalah pabrik es. Produksi yang ada saat ini di TPI Sambaliung hanya sekira 100 balok per hari, sementara untuk kebutuhan kapal besar untuk melaut bisa mencapai 500 balok. Belum ditambah kebutuhan pembudidaya.

“Ada beberapa pengusaha itu punya pabrik es, tapi hanya mampu mencukupi kebutuhan mereka, mudahan ini bisa permintaan kita diakomodir juga,” katanya.

“Mudahan kalau ada itu (pabrik es) juga nanti bisa dari HNSI yang kelola, dengan membentuk koperasi untuk meringankan anggota,” imbuhnya.

Terkait usulan-usulan tersebut, lanjut Suriadi, dari Pemprov Kaltim, meminta usulan atau berita acara dari HNSI Kabupaten Berau, khususnya para nelayan, yang kemudian disampaikan ke Bupati Berau, untuk disurati ke Pemprov Kaltim.

Harapan pihaknya kedepan, pemerintah provinsi maupun daerah, dapat lebih memperhatikan para nelayan, yang merupakan bagian dari pertahanan ekonomi bangsa. Khususnya Kabupaten Berau, hasil tangkapan ikan, sekitar 40 persen menjadi penyangga kebutuhan Kaltim maupun Kaltara.

“Terima kasih Pak Gubernur atas kunjungan dan oleh-olehnya untuk nelayan. Mudahan bisa terealisasi apa yang kami usulkan,” pungkasnya.

Kepala TPI Sambaliung, Fedrik Sibulo membenarkan, terkait kondisi dermaga maupun jembatan penghubung di PPI Sambaliung, yang memprihatinkan. Khususnya tiang-tiang penyangga dermaga banyak yang keropos.

“Dermaga PPI merupakan kewenangan Pemprov Kaltim, untuk pembangunan ataupun perbaikannya,” ungkapnya.

Disebutkan Fedrik, spesifikasi dermaga saat ini, panjangnya mencapai 74 meter, dengan lebar 6 meter. Yang rencananya diusulkan hanya pada penambahan lebar menjadi 9 meter. Untuk penambahan panjang,  ditegaskannya sudah tidak bisa dilakukan, lantaran menyangkut keselamatan alur kapal di sungai.

Untuk, jembatan penghubung yakni panjang 8 meter dan lebar 3,2 meter, dengan kondisi yang ada, diusulkan ada jalur pintu keluar dan masuk. Sehingga mobililasi dari kapal lebih lancar.

Dengan dermaga PPI yang ada, aktivitas bongkar muat mencapai sekira 20 ton per hari, dari hasil 5 sampai 10 kapal. Untuk kapal yang beroperasi di Dermaga PPI Sambaliung, mencapai 50 kapal terdaftar.

“Memang sejak 2006 dibangun, itu belum ada pembenahan, jadi usulannya layak permanen bukan kayu lagi,” tegasnya.

Diakui Fedrik, ada 3 usulan ke Pemprov Kaltim, yakni pembangunan Dermaga PPI, pabrik es dan cold storrage. Namun, menurutnya yang prioritas adalah dermaga dan pabrik es.

“Untuk permohonan itu diminta rapat berita acara dari HNSI dan ke Bupati dulu baru ke pemprov. Paling lambat tanggal 30 Juli ini sudah ada suratnya,” tegasnya.(ARIE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *