Berau Dorong Hilirisasi Kakao Premium, Ekspor 1,5 Ton Cacao Nibs ke Swiss

Pengiriman Cacao Nibs ke Swiss. (IST/Prokopim)

Kabupaten Berau kembali mencatatkan capaian positif di sektor perkebunan. Sebanyak 1,5 ton cacao nibs asal Berau resmi diekspor ke Swiss melalui Terminal Kargo Bandara Kalimarau, Sabtu (22/8/2026).

Ekspor produk olahan kakao ini menjadi salah satu langkah untuk memperluas pasar komoditas unggulan Berau ke tingkat internasional sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah bagi hasil perkebunan masyarakat.

Mewakili Bupati Berau Sri Juniarsih Mas, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Berau, Hendratno yang juga menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau secara resmi melepas pengiriman tersebut.

Kegiatan ekspor ini merupakan kerja sama dengan PT KHASS yang selama ini menjadi salah satu perusahaan penampung komoditas kakao di Berau, selain Berau Cocoa.

Produk yang dikirim dalam bentuk cacao nibs menunjukkan bahwa komoditas kakao daerah mulai diarahkan tidak hanya untuk dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi juga melalui produk olahan.

Hendratno mengatakan, kakao merupakan salah satu komoditas unggulan daerah pada subsektor perkebunan. Kakao Berau juga memiliki keunggulan dari sisi kualitas.

Biji kakao kering fermentasi asal Berau telah memenuhi standar mutu dan memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pemasaran kakao Berau, baik di pasar domestik maupun global.

Terlebih, permintaan terhadap kakao berkualitas terus terbuka, meski saat ini belum seluruhnya dapat dipenuhi karena adanya penurunan luas areal tanam dan produktivitas.

“Melalui kegiatan ekspor kakao ke Negara Swiss hari ini berupa cacao nibs dapat memberikan semangat bagi pelaku usaha untuk meningkatkan luasan areal tanam kakao dengan produktivitas yang tinggi,” ungkapnya.

Ia berharap ekspor tersebut dapat menjadi motivasi bagi petani dan pelaku usaha kakao di Berau untuk terus meningkatkan produksi.

Dengan bertambahnya produksi dan terjaganya kualitas, peluang kakao Berau untuk menembus pasar internasional dinilai akan semakin besar.

Hendratno juga menekankan pentingnya penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengembangan perkebunan kakao.

Menurutnya, pasar internasional saat ini tidak hanya mempertimbangkan kualitas dan kuantitas produk, tetapi juga memperhatikan bagaimana komoditas tersebut diproduksi.

Karena itu, peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan penguatan praktik perkebunan yang berkelanjutan, mulai dari proses budidaya, pemeliharaan tanaman, hingga pengolahan hasil panen.

Di sisi lain, sebagian besar produksi kakao Berau saat ini telah terikat kontrak dengan pasar domestik. Kondisi tersebut membuat ruang untuk ekspor masih relatif terbatas. Namun, pemerintah daerah melihat peluang ekspor tetap perlu terus dibuka, terutama melalui pengembangan produk olahan.

Dinas Perkebunan Berau pun terus mendorong hilirisasi agar komoditas kakao tidak berhenti pada penjualan biji kakao kering.

Pengolahan menjadi produk bernilai tambah dinilai dapat meningkatkan daya saing sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

“Selama ini kita masih dominan menjual biji kakao kering. Ke depan, kita dorong produk olahan dengan kualitas premium agar bisa bersaing, tidak hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri,” pungkasnya. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *