Akses Pendidikan “Masih” Terbatas di Wilayah Pedalaman

Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wilayah VI Berau, Ahmadong. (Azwini/Disway Kaltim)

PEMERINTAH terus mendorong pemerataan akses pendidikan menengah di wilayah pedalaman. Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah pembangunan dua sekolah menengah atas (SMA) negeri baru di Kecamatan Segah dan Tabalar.

Kehadiran SMA Negeri 16 di Segah dan SMA Negeri 17 di Tabalar menjadi jawaban atas persoalan yang selama ini dihadapi oleh lulusan SMP di dua wilayah tersebut. Jarak tempuh yang cukup jauh menuju sekolah lanjutan sering menjadi penghambat, bahkan tak jarang berdampak pada rendahnya angka melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wilayah VI Berau, Ahmadong, menjelaskan bahwa pembangunan akan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan fasilitas dasar sebagai penunjang awal operasional sekolah.

“Kami melihat potensi lulusan di sekitar sana. Untuk tahap awal, kami coba maksimalkan satu lokal dulu sambil melihat perkembangan ke depan,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Pada tahap awal akan disiapkan dua ruang kelas dengan kapasitas sekitar 72 siswa. Selain itu, fasilitas pendukung seperti ruang kepala sekolah dan tata usaha juga turut dibangun. Ahmadong menambahkan, proses verifikasi dan validasi lokasi telah dilakukan oleh tim dari Kementerian Pendidikan Dasar dan menengah belum lama ini. Hasil peninjauan tersebut menjadi dasar dalam menentukan kelayakan pembangunan di dua titik yang direncanakan.

“Kalau persoalan lahannya sudah tuntas, kami dorong bisa mulai tahun ini. Paling lambat melalui skema anggaran 2027,” tegasnya.

Dari sisi sumber daya manusia, Ahmadong mengatakan pihaknya akan menyiapkan skema sementara untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar. Guru dari SMA terdekat yang masih kekurangan jam mengajar akan diberdayakan, sembari menunggu pemenuhan formasi definitif. Sementara itu, untuk posisi kepala sekolah, Ahmadong mengungkapkan bahwa posisi tersebut akan diisi oleh pelaksana tugas hingga manajemen dan operasional sekolah berjalan optimal.

“Harapannya, dengan adanya dua sekolah baru ini anak-anak tidak lagi  terpaksa berhenti sekolah cuma karena masalah jarak saja,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *