Penggunaan listrik seiring waktu, terus meningkat. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Di antaranya, aktivitas masyarakat dan sektor usaha yang semakin berkembang.
————————
Penggunaan listrik masyarakat di Provinsi Kalimantan Timur terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Pada 2024, konsumsi listrik per kapita mencapai 1.679 kilowatt hour (kWh), tertinggi sejak 2020.
Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, mengatakan kenaikan konsumsi listrik menunjukkan aktivitas masyarakat dan sektor usaha di Kaltim semakin berkembang.
“Pada 2020 konsumsi listrik per kapita masih 1.086 kWh, kemudian meningkat menjadi 1.103 kWh pada 2021, naik lagi menjadi 1.252 kWh pada 2022, lalu 1.338 kWh pada 2023 dan mencapai 1.679 kWh per kapita pada 2024,” kata Bambang, Kamis, (7/5/2026).
Menurut dia, peningkatan penggunaan listrik dipengaruhi pertumbuhan kawasan industri, penggunaan perangkat elektronik, hingga aktivitas masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi digital.
“Kenaikan konsumsi listrik ini menandakan aktivitas masyarakat dan sektor usaha semakin tinggi. Penggunaan perangkat elektronik, digitalisasi layanan, hingga pertumbuhan kawasan industri ikut memengaruhi kebutuhan energi listrik,” ujarnya.
Data tersebut tercantum dalam laporan Dinas ESDM Kaltim Tahun 2025. Dalam laporan itu, konsumsi listrik per kapita digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan listrik masyarakat dalam satu tahun.
Adapun, Kenaikan terbesar terjadi pada 2023 menuju 2024 dengan tambahan 341 kWh per kapita. Angka tersebut, dinilai mencerminkan meningkatnya kebutuhan listrik rumah tangga maupun dunia usaha di Kaltim.
Selain konsumsi listrik, rasio elektrifikasi di Kaltim juga mengalami peningkatan. Pada 2024, rasio elektrifikasi mencapai 96,17 persen, naik dibanding 2023 sebesar 95,18 persen. Rasio elektrifikasi merupakan ukuran jumlah rumah tangga yang telah memperoleh akses listrik, baik dari PLN maupun non-PLN.
Bambang menjelaskan, dari total 1.358.621 kepala keluarga di Kaltim, sebanyak 89,50 persen menggunakan listrik PLN, sedangkan 10,50 persen lainnya masih menggunakan listrik non-PLN.
“Pemerataan akses listrik menjadi prioritas, terutama di wilayah pedalaman dan perbatasan. Kami ingin masyarakat memperoleh layanan listrik yang stabil untuk mendukung pendidikan, kesehatan, dan ekonomi,” ucap Bambang.
Meski rasio elektrifikasi meningkat, masih terdapat 109 desa berlistrik non-PLN dan 62.559 kepala keluarga pengguna listrik non-PLN pada 2024.
Sebagian wilayah tersebut masih mengandalkan genset dengan waktu operasional terbatas sehingga belum menikmati aliran listrik selama 24 jam penuh.“Wilayah yang belum terjangkau jaringan utama terus kami dorong melalui pembangunan energi berbasis tenaga surya atau PLTS bersama PLN,” katanya.
Berdasarkan data Dinas ESDM Kaltim, Samarinda menjadi daerah dengan rasio elektrifikasi tertinggi di Kaltim pada 2024, yakni mencapai 100 persen. Seluruh 312.525 kepala keluarga di kota tersebut telah memperoleh akses listrik.
Balikpapan berada di posisi berikutnya dengan rasio elektrifikasi 99,62 persen. Dari total 255.684 kepala keluarga, sebanyak 255.213 keluarga menggunakan listrik PLN dan 471 keluarga memakai listrik non-PLN.
Sementara itu, Bontang mencatat rasio elektrifikasi sebesar 94,43 persen. Kabupaten dengan rasio elektrifikasi terendah berada di Mahakam Ulu sebesar 87,41 persen. Dari total 11.729 kepala keluarga, sebanyak 6.682 keluarga memperoleh akses listrik PLN dan 5.047 keluarga masih menggunakan listrik non-PLN.
Adapun Kutai Timur memiliki rasio elektrifikasi 89,17 persen, sedangkan Kutai Kartanegara mencapai 89,32 persen. Di Paser, rasio elektrifikasi tercatat 92,31 persen. Sementara Penajam Paser Utara mencapai 92,83 persen dan Kutai Barat sebesar 94,82 persen.
Selain akses listrik, Dinas ESDM Kaltim juga mencatat perkembangan intensitas energi primer sepanjang 2019 hingga 2024. Indikator tersebut, digunakan untuk melihat tingkat efisiensi penggunaan energi terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Pada 2019, intensitas energi tercatat 116,74 barrel oil equivalent (BOE) per miliar rupiah konstan 2020. Angka itu naik menjadi 122,04 BOE pada 2020 dan 121,98 BOE pada 2021. Memasuki 2022, intensitas energi turun menjadi 101,68 BOE. Namun pada 2023 kembali meningkat menjadi 135,09 BOE sebelum turun menjadi 100,94 BOE pada 2024.
Menurut Bambang, tingginya intensitas energi menunjukkan aktivitas ekonomi Kaltim masih didominasi sektor padat energi seperti pertambangan dan industri pengolahan sumber daya alam.
“Transformasi menuju penggunaan energi yang lebih efisien menjadi tantangan besar. Kami terus mendorong pengembangan industri hijau dan pemanfaatan teknologi hemat energi di berbagai sektor,” tutur Bambang.
Di sisi lain, penggunaan energi baru terbarukan (EBT) di Kaltim juga meningkat. Pada 2019, porsi EBT tercatat 4,40 persen, lalu naik menjadi 12,14 persen pada 2024.
“Peningkatan bauran EBT menunjukkan pemanfaatan energi ramah lingkungan mulai berkembang di Kaltim. Pengembangan industri hijau dan teknologi hemat energi terus kami dorong untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil,” pungkas Bambang. (MAYANG SARI/ARIE)












