Kembangkan Motif Batik Khas Kaltara untuk Mendorong Tumbuhnya Wirausaha Baru

Pelatihan membatik yang digelar Disperindagkop Kaltara.

Hampir di setiap daerah memiliki motif khas batik. Termasuk daerah-daerah di Kalimantan Utara (Kaltara). Hal itulah yang menjadi perhatian Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kaltara.

Tak hanya mengirim perajin batik belajar ke Balai Batik Yogyakarta, Disperindagkop Kaltara juga menggelar pelatihan membatik, dengan narsumber mereka yang pernah belajar di Yogyakarta, untuk mendorong tumbuhnya wirausaha baru di sektor batik, sebagai upaya membangkitkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

“Sekarang mereka yang sudah punya kemampuan itu kita libatkan sebagai narasumber,” ujar Kepala Disperindagkop Kaltara, Hasriyani, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat transfer pengetahuan bagi pelaku usaha batik yang masih berada pada tahap pemula.

Para pembatik yang lebih dulu berkembang dinilai memiliki pengalaman praktis yang lebih mudah diterapkan di lapangan, sehingga proses pelatihan menjadi lebih efektif.

Sejumlah pelaku usaha batik di Kaltara juga telah berkembang dan dikenal hingga tingkat nasional maupun internasional. Di Tarakan, misalnya, terdapat perajin yang tidak hanya memproduksi batik, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Selain itu, ada pula pelaku usaha yang melibatkan penyandang disabilitas dalam proses produksi, serta perajin di wilayah Bulungan dan Tana Tidung yang terus mengembangkan batik berbasis motif lokal.

“Artinya, mereka ini bukan lagi baru. Bahkan sudah ada yang dikenal sampai ke tingkat internasional. Ini yang kita dorong untuk ikut membina yang baru,” ungkapnya.

Produk batik asal Kaltara juga mulai diperkenalkan dalam berbagai ajang, termasuk pameran berskala internasional. Pemerintah daerah secara rutin membawa produk batik lokal dalam kegiatan promosi, baik di dalam maupun luar negeri.

“Kami pernah ikut pameran di Malaysia dan juga ke Finlandia. Produk yang dibawa cukup diminati, artinya dari sisi kualitas sudah bisa bersaing,” kata Hasriyani.

Dalam pengembangannya, pemerintah daerah menekankan pentingnya motif berbasis kearifan lokal sebagai identitas batik Kaltara. Setiap daerah didorong mengangkat ciri khas masing-masing ke dalam desain.

“Motif itu tidak sekadar gambar, tapi harus punya filosofi. Jadi orang tahu cerita di balik batik yang dibuat,” ujarnya. (Muhammad Efendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *