Rute Penerbangan komersial Berau–Maratua Berhenti Beroperasi

Pesawat Wings Air yang beroperasi di Bandara Kalimarau. (Dok.Disway Kaltim)

RUTE penerbangan komersial Berau–Maratua yang sempat dibuka maskapai Wings Air melalui Bandara Kalimarau, pada pertengahan Januari lalu kini tidak lagi beroperasi. Minimnya jumlah penumpang membuat layanan penerbangan menuju destinasi wisata unggulan di Bumi Batiwakkal itu terhenti setelah hanya berjalan beberapa kali penerbangan.

Kepala BLU Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Kalimarau, Patah Atabri mengatakan, rute tersebut sebelumnya dibuka untuk memperkuat konektivitas menuju kawasan wisata kepulauan di Kabupaten Berau, khususnya Pulau Maratua dan Derawan. Namun, operasionalnya tidak bertahan lama karena tingkat keterisian penumpang yang sangat rendah.

“Memang sempat terbang, tapi cuma sekitar empat kali saja. Penumpangnya sangat sedikit, bahkan pernah hanya sembilan orang,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).

Padahal sebelumnya, Wings Air merencanakan penerbangan pulang-pergi Berau–Maratua menggunakan pesawat ATR-72 berkapasitas 72 penumpang. Rute tersebut dijadwalkan beroperasi tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Rabu, Jumat, dan Minggu. Namun dalam pelaksanaannya, jumlah penumpang yang menggunakan layanan tersebut jauh dari harapan maskapai.

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi rendahnya minat penumpang adalah harga tiket pesawat yang relatif tinggi. Saat mulai dipasarkan melalui platform perjalanan daring seperti Traveloka dan BookCabin, tarif tiket rute Berau–Maratua tercatat berada di kisaran Rp900.000 per penumpang.

“Kalau orang ke Maratua kebanyakan untuk liburan. Dengan harga tiket sekitar Rp900 ribuan dan bagasi juga berbayar, masyarakat lebih memilih naik speedboat yang tarifnya sekitar Rp300 ribuan sekali jalan. Akhirnya peminatnya sepi,” jelasnya.

Meski demikian, akses udara menuju Maratua masih tetap tersedia melalui penerbangan perintis Smart Avation yang disubsidi pemerintah. Tarif tiket untuk layanan ini berkisar antara Rp300.000 hingga Rp400.000 per penumpang, meski frekuensinya terbatas.

“Pesawat perintis masih ada, tapi memang hanya terbang seminggu sekali, biasanya pada hari Senin,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *