Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bulungan mewaspadai pergeseran pola penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Karena berdasarkan hasil skrining selama Januari hingga Juni 2026, temuan kasus positif tertinggi berasal dari kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).
Data Dinkes Bulungan, dari 510 orang yang menjalani pemeriksaan HIV pada berbagai kelompok populasi berisiko, ditemukan 15 kasus positif. Kelompok LSL mencatat proporsi kasus positif tertinggi, yakni lima orang dari 13 orang yang diperiksa.
Kepala Dinas Kesehatan Bulungan, Imam Sujono, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian, karena pola penularan HIV mulai bergeser dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Ini bukan cuma di kita (Bulungan), tetapi rata-rata di wilayah Kaltara juga grafiknya mirip,” ujar Imam, Senin (20/7/2026).
Ia menyampaikan, selain meningkat pada kelompok tersebut, penularan juga mulai ditemukan pada pasangan seksual mereka. Karena itu, upaya deteksi dini terus diperkuat untuk mencegah penularan yang lebih luas.
Menurutnya, salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah melalui skrining kesehatan bagi calon pengantin yang telah terintegrasi di puskesmas dan Kantor Urusan Agama (KUA).
Pemeriksaan tersebut bertujuan mendeteksi risiko penularan sejak dini sehingga dapat dilakukan penanganan lebih cepat.
Selain itu, pihaknya juga rutin memberikan edukasi mengenai HIV kepada masyarakat, terutama kalangan remaja dan kelompok yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi. Penyuluhan dilakukan di sekolah, tempat berkumpulnya anak muda, hingga lokasi yang menjadi sasaran program pencegahan.
“Petugas memberikan pemahaman mengenai bahaya HIV dan bagaimana penularannya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, orang dengan HIV tetap dapat menjalani kehidupan secara produktif selama rutin menjalani terapi antiretroviral (ARV). Pengobatan tersebut berfungsi menekan jumlah virus di dalam tubuh sehingga daya tahan tubuh tetap terjaga sekaligus menurunkan risiko penularan kepada orang lain.
Imam mengimbau masyarakat agar menghindari perilaku seksual berisiko dan tidak ragu memanfaatkan layanan pemeriksaan HIV yang tersedia di fasilitas kesehatan. (Muhammad Efendi)












