Perkuat Garda Terdepan Lawan Stunting, PT Berau Coal Beri Pembekalan 138 Kader Posyandu

Pembekalan 138 kader Posyandu. (Azwini/Disway Kaltim)

KOMITMEN terhadap peningkatan kualitas kesehatan generasi muda terus ditegaskan oleh PT Berau Coal melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

Kali ini, upaya tersebut diwujudkan melalui seminar kesehatan bertajuk “Kader Cerdas, Balita Sehast: Sinergi Gizi Klinis dan Pendekatan Psikologis dalam Penanganan Stunting” yang digelar pada Kamis, 23 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Politeknik Sinar Mas Berau Coal ini turut diikuti oleh 138 kader posyandu dari berbagai wilayah, mulai Telukj Bayur, Labanan, Sambaliung, Merancang, hingga Tanjung Redeb.

Dalam seminar tersebut, para peserta mendapatkan pembekalan komprehensif dari sejumlah narasumber berkompeten, di antaranya dokter spesialis gizi klinik RSUD Abdul Rivai Beraui dr. Nevi Dwi Handayani, dokter umum sekaligus Putri Indonesia 2022 dan aktivis sosial dr. Cindy May Mc Guire, serta psikolog DPPKBP3A Kabupaten Berau, Muhammad Ali Husni.

Materi yang disampaikan tidak hanya menitikberatkan pada aspek gizi, tetapi juga pendekatan psikologis, yang dinilai semakin penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Community Based Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung program kesehatan masyarakat, khususnya penanganan stunting yang sejalan dengan kebijakan pemerintah.

“Melalui Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal, kami menjalankan program PPM dengan salah satu fokus padsa pilar kesehatan. Penanganan stunting menjadi perhatian serius karena menyangkut masa depan generasi muda di Kabupaten Berau,” ujar Reza.

Ia menjelaskan, seminar ini merupakan bagian dari rangkaian program yang telah dijalankan secara konsisten. Selain edukasi, PT Berau Coal juga melakukan berbagai intervensi, mulai dari pemberian makanan tambahan (PMT) di 19 kampung wilayah lingkar tambang, hingga pendampingan bagi anak yang telah terindikasi stunting.

“Untuk kasus yang sudah terjadi, kami juga melakukan intervensi spesifik seperti pendampingan ke dokter spesialis. Semua ini dilakukan melalui kolaborasi dengan tenaga medis, kader, dan puskesmas di wilayah binaan,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa perhatian perusahaan terhadap stunting merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia di Berau.

“Anak-anak adalah generasi penerus. Kami ingin memastikan mereka tumbuh sehat sejak dini. Komitmen kami tidak berhenti di kesehatan saja, tetapi juga berlanjut hingga pendidikan dasar, menengah, bahkan perguruan tinggi,” tegasnya.

Sejak digencarkannya gerakan penanganan stunting secara nasional, PT Berau Coal juga aktif menjalankan program Bapak Asuh Anak Stunting (BAST) mandiri. Program ini dijalakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari para narasumber. dr. Cindy May Mc Guire menilai, pendekatan yang dilakukan PT Berau Coal merupakan langkah nyata dalam menjawab tantangan stunting yang masih menjadi persoalan serius.

“Ini adalah pergerakan yang luar biasa. Penanganan stunting tidak cukup hanya dari sisi medis, tetapi juga bagaimana pendekatan kepada ibu dan anak dilakukan dengan empati, agar mereka mau memanfaatkan layanan kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, peran kader sangat penting dalam membangun kepercayaan masyarakat, terutama dalam mendorong ibu untuk lebih aktif membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Senada dengan hal tersebut, dr. Nevi Dwi Handayani menyebut peningkatan kapasitas kader menjadi kunci utama dalam efektivitas penanganan stunting di lapangan.

“Kader ini adalah orang menemukan, memantau, dan memberikan edukasi kepada orang tua. Dengan pemahaman yang baik, mereka bisa menyampaikan informasi secara tepat,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman baru terkait faktor psikologis dalam stunting, yang selama ini belum banyak mendapat perhatian.

“Harapannya, materi yang diberikan bisa diterima dengan baik dan diterapkan, baik di posyandu maupun saat kunjungan ke rumah warga,” tambahnya.

Dari sisi peserta, kegiatan ini dinilai memberikan manfaat nyata. Salah satu kader Posyandu Permata Borneo Sei Bedungun, Murniati, mengaku mendapatkan wawasan baru, khususnya terkait pendekatan psikososial dalam penanganan anak.

“Materinya sangat membantu, terutama bagaimana menghadapi anak yang mengalami kesulitan makan dan cara memberikan edukasi kepada orang tua saat kunjungan rumah,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga kader posyandu semakin siap dalam menjalankan peran sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. (***/AZWINI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *