Masalah stunting masih menjadi pekerjaan rumah di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Bulungan yang pada 2024 lalu, masih berada di angka 15 persen.
Meski prevalensi stunting di Bulungan mengalami penurunan drastis dibanding pada 2021 lalu, yang sebesar 22,9 persen, menurut Bupati Bulungan Syarwani, potensi stunting masih ada dan membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Karena itu, ia mengingatkan agar pencegahan stunting dilakukan sejak dini. Yakni dimulai sejak masa kehamilan atau anak dalam kandungan hingga berusia 2 tahun.
“Periode 1.000 hari pertama kehidupan yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun merupakan fase penting dalam menentukan tumbuh kembang anak,” kata Syarwani, dikutip dari Antara, Senin (12/10/2026).
Menurut Syarwani, yang harus dilakukan adalah pemenuhan gizi, menjalani pola hidup sehat, dan pendampingan yang salah satunya oleh kader PKK, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan pihak keluarga.
“Keterlibatan mereka menjadi kunci untuk menekan angka stunting,” imbuhnya.
Syarwani pun meminta kader-kader PKK di setiap desa untuk lebih aktif mendampingi.
“Pendampingan ini kita harapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan gizi sejak awal kehidupan,” ujarnya.
Usulan budi daya ayam petelur di rumah-rumah kader PKK, menurut Syarwani, tidak hanya berpotensi membantu memenuhi kebutuhan telur keluarga, tetapi juga mendukung pemenuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan.
“Dengan ketersediaan sumber protein yang lebih mudah dijangkau, diharapkan semakin terbantu dalam menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak,” kata Syarwani. (fen)












