DI bawah rerindukan pohon penaung, kebun kakao milik Agustinus Burman dan istrinya, Isadora, di Kampung Suaran perlahan berbenah. Sejak merintis lahan pada 2010 silam, pasangan suami istri ini baru benar-benar merasakan angin segar tata kelola kebun dalam dua tahun terakhir.
Ilmu baru ihwal teknik sambung samping hingga tata cara perawatan sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP) kini dikantongi Isadora. Bekas lelah merawat tanaman yang telanjur uzur terbayar lewat sekolah lapang yang dihelat Yayasan Dharma Bakti Berau Coal (YDBBC).
“Program ini sangat bagus dan membantu meningkatkan kualitas kebun. kami berharap Berau Coal dapat terus mendampingi kami sebagai petani,” ujar Isadora, Senin (26/10/2026).
Nada syukur serupa terucap dari bibir Ferdinandus Seman (49). Petani kakao yang turut terseret dalam program rehabilitasi ini mengaku terbantu dari urusan teknis hingga logistik kebun. Tanpa sokongan sarana produksi pertanian (saprodi) dan pupuk dari korporasi, perbaikan kebun yang ia garap bakal memakan ongkos yang tidak sedikit.
“Kalau harus membeli sendiri, biayanya juga lumayan,” ucap Ferdinandus.
Sejak digulirkan secara lebih terarah pada 2024, YDBBC mencatat sebanyak 1.290 petani, baik pendatang baru di dunia pertanaman maupun pekebun lama yang lahannya tertidur telah merapat dalam barisan pendampingan, angka tersebut adalah pendampingan pada periode Januari hingga Oktober 2026.
Bagi petani anyar, pintu masuk program ini dibuka lewat sekolah lapang. Di sinilah doktrin budidaya hulu hingga hilir ditanamkan. Usai menamatkan kelas dasar, para petani diguyur logistik berupa bibit kakao bersertifikat, tanaman penaung, pupuk, hingga dolomit.
Sementara itu, bagi kebun-kebun veteran yang telanjur loyo, jalur rehabilitasi menjadi jalan pemotong kompas. Pohon-pohon tua diremajakan, praktik budidaya ditata ulang, dan suplai saprodi disuntikkan sesuai kebutuhan riil di atas tanah.
Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, menegaskan bahwa komoditas kakao dipilih bukan tanpa hitung-hitungan. Potensi lokal ini dipandang memiliki daya ungkit kuat untuk merajut kemandirian ekonomi masyarakat Berau secara berkelanjutan.
“Melalui program ini, kami ingin mendukung petani agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola kebun kakao,” kata Reza.
Keterlibatan aktif petani, imbuh Reza, menjadi kunci mati keberlanjutan program. Korporasi memilih memegang kendali di lingkar edukasi, sementara eksekusi harian diserahkan sepenuhnya kepada tangan-tangan petani yang kini kian terlatih.
Kini, dari Kampung Suaran hingga sudut-sudut wilayah Berau lainnya, biji-biji cokelat tidak lagi sekadar buah sela. Ia dirawat sebagai asa baru kemandirian ekonomi. (***/SETIAWAN)












