Produksi Batu Bara Kaltim Kini Terus Turun

Produksi batu bara Kaltim yang diekspor ke luar daerah melintas di perairan Sungai Mahakam setiap hari. (DISWAY KALTIM/MAYANG SARI)

Sempat tinggi produksi batu bara di Kalimantan Timur pada 2024, kini terus mengalami penurunan. Meski demikian, komoditas ini masih menjadi penopang utama perekonomian di Benua Etam.

——————–

Batu bara masih menjadi penopang utama sektor energi di Kalimantan Timur. Meski 2 tahun belakangan mengalami penurunan produksi. Yang melonjak tinggi hingga mencapai 308,67 juta ton pada 2024. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir, sekaligus memperlihatkan komoditas ini masih mendominasi sektor pertambangan di Benua Etam.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Bambang Arwanto, mengatakan, tingginya produksi tersebut mencerminkan batu bara masih menjadi komoditas utama yang menopang aktivitas pertambangan sekaligus memberi kontribusi besar terhadap perekonomian daerah.

“Produksi batu bara pada 2024 menjadi capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan sektor pertambangan masih memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian Kalimantan Timur,” kata Bambang, Senin (27/7/2026).

Data Dinas ESDM Kaltim menunjukkan produksi batu bara bergerak fluktuatif sepanjang 5 tahun terakhir. Pada 2020, produksi berada di kisaran 206,03 juta ton. Setahun kemudian meningkat menjadi 294,25 juta ton sebelum turun menjadi sekitar 180,01 juta ton pada 2022.

Penurunan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki 2023, produksi kembali meningkat menjadi 207,44 juta ton. Tren positif berlanjut pada 2024 ketika produksi melonjak hingga 308,67 juta ton atau menjadi capaian tertinggi selama periode lima tahun terakhir.

Dokumen pembangunan daerah mencatat, peningkatan produksi dipengaruhi membaiknya permintaan batu bara di pasar internasional. Sejumlah negara tujuan ekspor, seperti Tiongkok dan India, kembali meningkatkan kebutuhan energi setelah aktivitas ekonomi pulih pascapandemi Covid-19.

Di sisi lain, harga batu bara di pasar global yang masih kompetitif ikut mendorong perusahaan meningkatkan volume produksi untuk memenuhi permintaan ekspor. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat produksi batu bara Kaltim kembali melonjak sepanjang 2024.

Bambang menjelaskan, perubahan volume produksi dari tahun ke tahun merupakan hal yang umum terjadi di industri pertambangan. Besarnya produksi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari rencana kerja perusahaan, kondisi pasar, hingga permintaan dari negara tujuan ekspor.

“Naik turunnya produksi merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari rencana kerja perusahaan, kondisi pasar, hingga permintaan dari negara tujuan ekspor. Karena itu, setiap tahun angkanya bisa berbeda,” ujarnya.

Meski 2024 menjadi tahun dengan produksi tertinggi, data terbaru Dinas ESDM Kaltim menunjukkan angka tersebut mulai mengalami penyesuaian. Berdasarkan pembaruan data hingga Juni 2026, produksi batu bara tahun 2025 tercatat sekitar 287,79 juta ton. Sementara itu, realisasi produksi tahun 2026 baru mencapai sekitar 1,06 juta ton.

Menurut Bambang, data tersebut belum dapat dijadikan acuan capaian akhir karena masih bersifat sementara. Nilainya akan terus diperbarui sesuai laporan produksi yang disampaikan perusahaan pemegang izin selama tahun berjalan.

“Data produksi yang kami sajikan merupakan pembaruan hingga Juni 2026. Karena masih tahun berjalan, angkanya akan terus diperbarui sesuai laporan produksi yang disampaikan perusahaan,” tuturnya.

Di balik tingginya produksi batu bara, subsektor migas justru menunjukkan arah berbeda. Dokumen pembangunan daerah mencatat produksi migas pada 2024 mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan sektor energi di Kaltim karena batu bara dan migas selama ini sama-sama menjadi komoditas strategis.

Penurunan produksi migas dipengaruhi semakin berkurangnya cadangan pada lapangan-lapangan yang telah memasuki fase produksi lanjut atau mature fields. Seiring bertambahnya usia lapangan, kemampuan menghasilkan minyak dan gas juga terus menurun.

Selain itu, kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru masih terbatas sehingga tambahan produksi belum mampu menggantikan penurunan dari lapangan yang telah lama beroperasi. Situasi tersebut diperparah oleh sejumlah kendala operasional, seperti keterlambatan pengeboran, keterbatasan fasilitas produksi, hingga cuaca ekstrem yang menghambat aktivitas di lapangan.

Berbeda dengan batu bara yang masih ditopang permintaan pasar internasional, produksi migas menghadapi tantangan yang lebih kompleks karena berkaitan dengan kondisi lapangan produksi dan keberhasilan menemukan sumber cadangan baru.

Bambang mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Menurut dia, sektor energi Kaltim tidak hanya bertumpu pada batu bara, tetapi juga memerlukan produksi migas yang tetap terjaga agar pasokan energi dapat berlangsung berkelanjutan.

“Di sisi lain, kami juga terus memperhatikan perkembangan subsektor migas yang menghadapi tantangan penurunan produksi. Upaya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam, keberlanjutan, dan pengembangan sektor energi lainnya tetap menjadi perhatian pemerintah daerah,” tutupnya.(MAYANG SARI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *