Buah mangrove kini mulai dilirik untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Tak hanya sebagai camilan, buah mangrove atau buah pidada juga dapat diolah jadi minuman.
Di Tarakan, misalnya, buah pidada diolah menjadi sirop. Sebelumnya, buah pidada hanya dimanfaatkan sebagai pemberi rasa asam pada masakan ikan oleh masyarakat pesisir di Tarakan.
“Selain pidada, masyarakat juga memproduksi sirop dari buah nipah,” kata Penyuluh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tarakan, Ahmad Afif, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian kawasan mangrove.
“Kami berharap potensi sumber daya pesisir tidak hanya terjaga kelestariannya, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan,” lanjutnya.
Selain memproduksi minuman dari buah mangrove dan nipah, masyarakat pesisir Tarakan, lanjut Afif, pun memproduksi camilan dari hasil tangkapan melaut.
“Produk yang sudah dihasilkan cukup beragam. Dari hasil laut ada petis udang, sambal udang kering, sambal petis, sambal ikan asap, dan beberapa jenis sambal lainnya,” ujarnya.
Proses produksi produk diakui Afif melibatkan seluruh anggota keluarga. Para nelayan mencari bahan baku di laut, sedangkan hasil tangkapan kemudian diolah oleh ibu rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Jadi, bapak-bapak melaut, kemudian hasil tangkapannya diolah oleh ibu-ibu di rumah menjadi petis maupun aneka sambal,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, produk-produk tersebut telah diperkenalkan pada Pekan Daerah (PEDA) tingkat Provinsi Kalimantan Utara. (Muhammad Efendi)












