Sungai Buaya yang menjadi salah satu sumber air baku Perusahaan Umum Daerah Air Minum Danum Benuanta yang alami penyusutan dalam beberapa hari terakhir, dipastikan tidak memengaruhi distribusi air bersih ke pelanggan.
Hal itu ditegaskan Direktur Perumda Air Minum Danum Benuanta, Eldiansyah. Karena menurutnya, penyusutan itu hanya berdampak pada kapasitas produksi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sungai Buaya.
“Untuk IPA Sungai Buaya yang sebelumnya berkapasitas sekitar 150 liter per detik, saat ini diturunkan menjadi sekitar 50 liter per detik,” ujar Eldiansyah, Senin (30/3/2026).
Pengurangan produksi tersebut dilakukan pihaknya sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi debit air sungai yang menurun, agar proses pengolahan tetap berjalan optimal tanpa mengganggu kualitas air.
Ia pun memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap dapat dipenuhi, karena sistem distribusi PDAM pun tidak hanya bergantung pada satu sumber.
“Suplai air juga ditopang oleh dua instalasi pengolahan lainnya, yakni IPA di Jalan Padalelo serta IPA di Desa Jelarai yang beroperasi normal,” ungkapnya.
Menurutnya, adanya dukungan dari beberapa sumber air baku tersebut, PDAM dapat mengatur pembagian beban produksi sehingga pelayanan kepada pelanggan tetap stabil, meskipun salah satu intake mengalami penurunan kapasitas.
Sementara itu, intake Sungai Buaya masih tetap dioperasikan untuk melayani sejumlah wilayah tertentu, khususnya kawasan dataran tinggi seperti Jalan Rajawali serta beberapa area perkantoran, di antaranya kawasan Agathis, Skip Durian, dan Jalan Jeruk.
Terkait penanganan jangka panjang, PDAM berencana berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Kalimantan Utara, untuk membahas langkah teknis yang diperlukan, termasuk kemungkinan normalisasi sungai agar fungsinya sebagai sumber air baku tetap terjaga. (Muhammad Efendi)












