Jabatan Muhammad Yamin, sebagai direktur utama Bankaltimtara, sedianya masih berakhir di 2028. Penurunan dividen dan munculnya persoalan hukum, dugaan korupsi di Kalimantan Utara (Kaltara), membuat posisinya tersebut harus lengser.
——————————-
Wacana percepatan pergantian Direktur Utama Bankaltimtara, memicu sorotan publik dan DPRD Kalimantan Timur, di tengah penurunan kinerja, serta munculnya persoalan hukum yang membayangi bank daerah tersebut.
Saat ini, posisi Direktur Utama masih dijabat Muhammad Yamin untuk periode 2024–2028. Ia telah memimpin sejak 2020 dan kembali ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham pada 5 April 2024. Dengan sisa masa jabatan sekitar dua tahun, rencana pergantian lebih awal memunculkan tanda tanya di kalangan pemegang saham.
Sejumlah kepala daerah yang mewakili pemegang saham minoritas mempertanyakan urgensi langkah tersebut. Struktur kepemilikan Bankaltimtara, menempatkan Pemprov Kaltim sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi 64,51 persen, sementara sisanya dimiliki Pemprov Kalimantan Utara serta pemerintah kabupaten dan kota di wilayah Kaltim dan Kaltara.
Di tengah polemik tersebut, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyoroti kondisi kinerja bank yang mengalami penurunan signifikan. Ia mengungkapkan, dividen yang diterima pemerintah daerah tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Dari target Rp338 miliar, realisasi hanya Rp191 miliar. Penurunan sekitar 32 persen, berdampak terhadap struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Ia menilai, capaian tersebut menjadi indikator penting untuk mengevaluasi kinerja manajemen bank, terutama karena Bankaltimtara memiliki peran strategis sebagai penopang pendapatan daerah.
“Kalau target tidak tercapai, tentu harus ada evaluasi. Ini menyangkut keuangan daerah dan program pembangunan,” jelasnya.
Selain penurunan kinerja, Rudy juga mengungkap adanya persoalan serius di wilayah Kalimantan Utara, yang berkaitan dengan bank tersebut. Terdapat dugaan tindak pidana korupsi yang menyebabkan kerugian hingga ratusan miliar rupiah.
“Uang rakyat ratusan miliar hilang, masa mau dibiarkan?” ujarnya.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak bisa dipandang ringan, karena menyangkut kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan milik daerah.”Ini bank besar, bukan bank kecil. Jadi pengelolaannya harus benar-benar profesional,” ucapnya.
Di sisi lain, proses seleksi calon Direktur Utama Bankaltimtara telah berjalan. Hingga kini, telah mencapai tahap uji kemampuan dan kepatutan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Adapun, dua nama yang dinyatakan lolos yakni Romy Wijayanto dan Amri Mauraga.
Romy Wijayanto memiliki pengalaman sebagai Direktur Keuangan dan Strategi Bank DKI serta meraih penghargaan kinerja di sektor perbankan daerah. Sementara Amri Mauraga pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bank Sulselbar, sebelum mengundurkan diri pada 2022.
Kehadiran dua kandidat tersebut menandakan proses regenerasi kepemimpinan bank tengah berjalan, meski masih menyisakan perdebatan terkait waktu pelaksanaannya. Menanggapi hal itu, Rudy menegaskan proses seleksi dilakukan secara terbuka melalui panitia seleksi dan melibatkan otoritas yang berwenang.
“Semua orang boleh mendaftar. Yang penting profesional, akuntabel, dan punya kompetensi,” ujar Rudy.
Hasil seleksi dari panitia seleksi akan diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan sebelum ditetapkan oleh pemegang saham.”Pansel yang bekerja, bukan kepala daerah. Setelah itu dibawa ke OJK, baru kemudian diserahkan kepada kami untuk dipilih berdasarkan nilai dan kompetensi,” imbuhnya.
Rudy juga menanggapi kritik soal minimnya keterlibatan putra daerah dalam proses seleksi. Ia menilai kesempatan telah dibuka secara luas bagi seluruh pihak. “Nah itu yang masalah. Kenapa putra daerah enggak ada yang mendaftar? Kan sudah dibuka secara umum. Ke mana putra daerah kita ini?” Tegasnya.
Ia menegaskan pemerintah tidak bisa disalahkan selama proses pendaftaran telah dibuka secara transparan. “Jangan tanya ke kita dong. Yang salah kalau kami tidak membuka pendaftaran. Masa yang mendaftar orang dari luar?” Sebut Rudy.
Menurut dia, terdapat putra daerah yang ikut dalam seleksi, namun tidak lolos pada tahapan yang dilakukan panitia seleksi.”Ada sih dari putra daerah, tetapi di dalam seleksi di pansel itu gugur,” ucapnya.
Lanjut Rudy, Bankaltimtara harus diisi oleh sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan integritas tinggi agar mampu menjaga kinerja serta kepercayaan publik.”Ini bukan bank kaleng-kaleng. Harus diisi orang yang benar-benar layak,” tuturnya.
Rudy berharap, polemik yang muncul dapat segera menemukan titik terang seiring proses seleksi yang terus berjalan, sehingga Bankaltimtara dapat kembali fokus meningkatkan kinerja dan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Sementara itu, Media ini mencoba menghubungi Muhammad Yamin selaku Dirut Bank Kaltimtara, namun tidak mendapat jawaban. (MAYANG SARI/ARIE)












