Utara Kaltim Berbahaya, Kombinasi Gempa dari Laut Sulawesi Perlu Diwaspadai

Peta salah satu sesar Mangkalihat  (dok. BMKG)

Potensi gempa maupu tsunami di Kalimantan Timur (Kaltim) perlu diwaspadai, khususnya bagian utara. Ditambah kewaspadaan dari laut Sulawesi yang berdampak ke Benua Etam.

———————————

Kalimantan Timur tidak bisa sepenuhnya mengandalkan kondisi wilayahnya yang selama ini relatif jarang diguncang gempa besar. Di balik karakter tersebut, terdapat jaringan sesar yang menjadi sumber kegempaan di Pulau Kalimantan.

Dari lima sesar yang teridentifikasi, 3 di antaranya berada di kawasan yang berkaitan langsung dengan potensi kegempaan Kaltim bagian utara, yakni Sesar Tarakan, Mangkalihat, dan Sangkulirang. Ancaman juga datang dari kawasan Laut Sulawesi yang memiliki sumber gempa dengan kekuatan besar.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kalimarau, Berau, Ade Heryadi, menyebut kelima sesar tersebut merupakan bagian dari struktur tektonik yang perlu diperhitungkan dalam melihat potensi kegempaan di Kalimantan.

“Di Kalimantan ada beberapa sesar, di antaranya Sesar Tarakan, Sesar Mangkalihat, Sesar Sangkulirang, Sesar Meratus, dan Sesar Adang,” ujar Ade, Rabu, (19/8/2026).

Sesar Adang memiliki karakter berbeda karena merupakan sesar purba yang memanjang dari Pontianak, Kalimantan bagian barat, hingga wilayah Kaltim. Sementara di bagian utara Kaltim, tiga sesar menjadi sumber kegempaan yang perlu diperhitungkan bersama sumber gempa dari kawasan Laut Sulawesi.

“Untuk wilayah Kalimantan Timur bagian utara, potensi kegempaan bisa berasal dari aktivitas tiga sesar tersebut. Ditambah adanya subduksi di utara Sulawesi,” katanya.

Bagi Berau, ancaman dari laut menjadi perhatian tersendiri karena sejumlah sumber gempa di Laut Sulawesi berpotensi memberikan dampak hingga wilayah tersebut. Sumber yang diperhitungkan antara lain North Sulawesi Megathrust dengan potensi magnitudo 8,5, Palu-Koro 7,4, dan Maratua 7,5.

Namun, angka magnitudo tidak serta-merta menggambarkan kekuatan guncangan yang akan dirasakan masyarakat. Kondisi lokasi sumber gempa, kedalaman, hingga jaraknya dari permukiman turut menentukan dampak di permukaan.

“Besaran dampak yang menimbulkan guncangan tergantung dari sumber gempa baik dari jarak dan kedalamannya,” jelas Ade.

Faktor tersebut, membuat gempa berkekuatan kecil tetap perlu diperhitungkan apabila sumbernya berada dekat permukiman. Gempa dengan magnitudo kurang dari 3 sekalipun dapat dirasakan apabila terjadi di daratan dengan kedalaman dangkal dan berada dekat dengan penduduk.

Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan guncangan. Wilayah pesisir Kaltim juga perlu memperhitungkan kemungkinan tsunami, apabila terjadi gempa besar di laut. Ade menyebut ancaman tersebut terutama berkaitan dengan aktivitas zona megathrust di utara Sulawesi.

Gempa dengan magnitudo lebih dari 7 yang bersumber dari zona tersebut berpotensi menimbulkan tsunami dengan tingkat ancaman waspada hingga siaga. Ketinggian tsunami yang diperhitungkan berada di bawah 3 meter.

“Jika terjadi gempa dengan M>7 yang bersumber dari zona megathrust di utara Sulawesi, berpotensi tsunami pada level waspada-siaga, kurang dari 3 meter,” ujar Ade.

Karena itu, kesiapan menghadapi bencana perlu diarahkan pada kemampuan masyarakat untuk merespons dalam waktu singkat. Edukasi kebencanaan menjadi penting agar warga tidak hanya mengetahui adanya ancaman, tetapi juga memahami tindakan yang harus dilakukan ketika gempa maupun peringatan tsunami terjadi.

Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memastikan infrastruktur mitigasi tersedia dan berfungsi. Jalur evakuasi harus mudah dikenali dan dapat digunakan masyarakat, sementara titik kumpul perlu ditentukan berdasarkan kondisi wilayah serta akses warga.

“Yang perlu dipersiapkan oleh Pemda Berau dalam menghadapi ancaman gempa besar dan potensi tsunami yaitu peningkatan edukasi bagi masyarakat, pembuatan jalur evakuasi, penentuan titik kumpul,” tegasnya.

Ancaman tersebut menunjukkan bahwa mitigasi tidak boleh menunggu sampai gempa terjadi. Berau perlu memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, dan edukasi kebencanaan benar-benar tersedia dan dipahami masyarakat, terutama di kawasan pesisir. Sebab, ketika gempa kuat terjadi dan diikuti ancaman tsunami, waktu untuk mengambil keputusan sangat terbatas.

Data Pusat Gempa Regional (PGR) XI Balikpapan ini sekaligus menegaskan bahwa, Benua Etam bukan wilayah yang sepenuhnya bebas dari ancaman gempa. Risiko berasal dari kombinasi sumber kegempaan di daratan Kalimantan dan aktivitas tektonik di kawasan Laut Sulawesi. Karena itu, kesiapan menghadapi gempa dan tsunami perlu dibangun sebelum bencana datang, bukan setelah dampaknya terjadi. (MAYANG SARI/ARIE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *