Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur (Kaltim) masih berupaya mempertahankan seluruh 64 cabang olahraga (cabor) yang telah menjalani babak kualifikasi untuk tampil pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kaltim 2026.
Sekretaris Jenderal KONI Kaltim, Abdul Muis, menyebut komposisi cabor yang akan dipertandingkan hingga kini belum ditetapkan secara resmi. Pembahasan masih dilakukan bersama pihak-pihak yang terlibat dalam persiapan Porprov.
Menurutnya, KONI Kaltim memiliki sikap untuk mempertahankan 64 cabor. Opsi tersebut dinilai penting karena para atlet dari masing-masing cabang telah menjalani proses seleksi dan kualifikasi sebelum dinyatakan berhak mengikuti Porprov.
“Belum ada fiksasi untuk jumlah cabor dan nomor tanding. Dari KONI Provinsi Kalimantan Timur sendiri pada prinsipnya tetap memperjuangkan 64 cabang olahraga dipertandingkan,” ujar Abdul Muis saat menghadiri Rapat Kerja KONI Kutim, Kamis (13/8/2026).
Wacana pengurangan cabor sebelumnya, berkaitan dengan kemampuan pembiayaan penyelenggaraan. Dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Kaltim untuk Porprov disebut berada di angka Rp20 miliar, sementara kebutuhan yang diajukan mencapai sekitar Rp60 miliar.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan opsi rasionalisasi. Jumlah cabor yang semula direncanakan 64 berpotensi dikurangi menjadi 50 apabila penyesuaian anggaran tidak menemukan alternatif lain.
Abdul Muis mengatakan, KONI tidak berada pada posisi untuk mencampuri kebijakan anggaran. Namun, pihaknya mendorong agar penghematan dilakukan pada komponen yang masih memungkinkan tanpa menghilangkan kesempatan atlet dari sejumlah cabor.
Salah satu yang dapat dievaluasi, kata dia, adalah jumlah nomor pertandingan. Dengan melakukan penyesuaian pada bagian tersebut, anggaran yang tersedia diharapkan dapat dialihkan untuk menjaga lebih banyak cabor tetap masuk dalam agenda Porprov.
“Kami sampaikan bahwa hal-hal yang bisa dirasionalisasi, itu rasionalisasi. Nanti hasil rasionalisasi tersebut bisa dialihkan agar cabor-cabor yang lain bisa dipertandingkan,” jelasnya.
Selain persoalan pembiayaan, kesiapan sarana pertandingan juga menjadi bagian dari pembahasan. Porprov VIII akan berlangsung di Kabupaten Paser sebagai tuan rumah, tetapi tidak seluruh kebutuhan venue harus dipusatkan di daerah tersebut.
KONI Kaltim membuka kemungkinan penggunaan fasilitas olahraga di daerah lain apabila terdapat cabang yang belum memiliki venue memadai di Paser. Kabupaten atau kota di sekitar lokasi penyelenggaraan dapat berperan sebagai daerah penyangga.
“Kalaupun misalnya ada cabor yang venue-nya tuan rumah tidak siap, kita bisa cari kabupaten kota penyangga yang memiliki venue untuk mendukung cabor tersebut dipertandingkan,” ungkap Abdul Muis.
Ia menilai keberadaan atlet yang telah mengikuti babak kualifikasi juga harus menjadi pertimbangan. Mereka telah melewati tahapan kompetisi untuk mendapatkan tiket menuju Porprov sehingga keputusan pengurangan cabor dinilai perlu diperhitungkan secara matang.
Menurut Abdul Muis, para peserta BK tentu memiliki ekspektasi untuk melanjutkan perjuangan ke ajang utama. Karena itu, KONI memilih terus berkomunikasi dengan Panitia Besar Porprov dan Dinas Pemuda dan Olahraga Kaltim.
“Kita harus hargai juga teman-teman yang ikut BK. Mereka berharap dipertandingkan karena sudah dikualifikasikan untuk tampil,” katanya.
Hingga saat ini belum ada keputusan akhir mengenai cabor maupun nomor pertandingan yang akan dikurangi. KONI Kaltim masih mendorong skema penghematan di sejumlah pos agar keterbatasan anggaran tidak langsung berujung pada pemangkasan cabang olahraga.
Abdul Muis menegaskan pembahasan tersebut masih berjalan dan keputusan akhirnya akan menjadi hasil koordinasi antara KONI Kaltim, PB Porprov, serta Dispora Kaltim.
Ia berharap terdapat solusi yang memungkinkan sebanyak mungkin cabor tetap dipertandingkan pada Porprov VIII.
Diberitakan sebelumnya, keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam mempersiapkan pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026. Dengan jumlah cabang olahraga (cabor) yang telah ditetapkan mencapai 64, kebutuhan pembiayaan dinilai jauh melampaui kemampuan anggaran yang tersedia.
Rencana awal sebanyak 64 cabang olahraga. Sementara ini hanya 50 cabor yang masuk dalam rancangan pelaksanaan Porprov VIII Kalimantan Timur. Adapun sebanyak 14 cabor lainnya berpotensi dicoret, sebagai bagian dari langkah efisiensi anggaran.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Paser, Kurniawan, mengatakan hingga saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemprov Kaltim dan Panitia Besar (PB) Porprov, untuk mencari solusi terbaik tanpa merugikan seluruh pihak.
Menurutnya, sejak awal Pemkab Paser tidak pernah memiliki keinginan untuk mencoret ataupun mengurangi jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan. Namun kondisi anggaran memaksa semua pihak duduk bersama guna menentukan langkah yang paling realistis.
“Kami dari awal tidak pernah berniat mengurangi cabang olahraga. Sudah berkali-kali kami berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan PB Porprov.”
“Semua keputusan nantinya harus menjadi kesepakatan bersama, bukan keputusan sepihak dari Paser maupun PB Porprov,” ujarnya, Kamis 6 Agustus 2026.
Kurniawan menjelaskan, pengurangan cabang olahraga tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena terdapat sejumlah pertimbangan yang telah disepakati sebelumnya.
Beberapa indikator yang menjadi dasar evaluasi antara lain ketersediaan venue pertandingan, keberadaan atletdi daerah, hingga status cabang olahraga tersebut dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Kalau ada cabang olahraga yang dievaluasi, kriterianya jelas. Misalnya venue tidak tersedia, kita tidak memiliki atlet, atau cabang olahraga tersebut memang tidak dipertandingkan di PON. Jadi bukan asal mencoret atau mengurangi,” katanya.
Ia juga menyoroti perbandingan anggaran penyelenggaraan Porprov sebelumnya di Kabupaten Berau. Saat itu, sekitar 50 cabang olahraga digelar dengan dukungan anggaran mencapai Rp50 miliar. Sementara Kabupaten Paser kini menghadapi kondisi berbeda.
Dengan jumlah cabang olahraga yang justru lebih banyak, yakni 64 cabor, anggaran yang tersedia hanya sekitar Rp20 miliar. “Kalau menggunakan asumsi sederhana, di Berau 50 cabang olahraga dengan anggaran Rp50 miliar, berarti rata-rata satu cabang sekitar Rp1 miliar.”
“Sekarang di Paser ada 64 cabang olahraga tetapi anggarannya hanya Rp20 miliar. Silakan dihitung sendiri bagaimana beratnya kondisi tersebut,” ungkapnya.(Sakiya Yusri/ARIE)












