ARUS masuk hewan kurban dari luar daerah ke Kabupaten Berau tersendat menjelang Idul Adha 2026. Hingga kini, belum satu pun ternak dinyatakan lolos sepenuhnya, menyusul diperketatnya pemeriksaan kesehatan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit menular.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau mengambil langkah tegas setelah menemukan adanya indikasi penyakit pada sejumlah ternak yang hendak didatangkan. Situasi ini membuat seluruh pengiriman masih tertahan di tahap verifikasi.
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengungkapkan bahwa pihaknya baru-baru ini membatalkan rencana pemasukan 34 ekor sapi yang berasal dari Sulawesi Selatan. Meski sebelumnya telah mendapatkan rekomendasi awal, sapi-sapi tersebut akhirnya dilarang masuk setelah ditemukan adanya indikasi penyakit.
“Pada saat proses pemeriksaan, ternyata sapi dari sana terindikasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), otomatis tidak kami izinkan masuk,” ujar Lita, Selasa (21/4/2026).
Ia menegaskan, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan hewan sekaligus melindungi masyarakat sebagai konsumen.
Tak hanya itu, beberapa rencana pemasukan ternak dari daerah lain juga mengalami nasib serupa. Namun, hingga saat ini status hewan-hewan tersebut masih tertahan pada tahap verifikasi karena belum memenuhi persyaratan kesehatan yang ditetapkan.
“Sampai sekarang belum ada yang benar-benar dinyatakan lolos. Semua masih dalam proses pemeriksaan,” kata Lita.
Menurutnya, pengawasan dilakukan berlapis. Selain pemeriksaan administrasi sebelum pengiriman, setiap hewan yang tiba di Berau wajib menjalani pengecekan fisik langsung oleh petugas untuk memastikan kondisi kesehatannya.
Pemeriksaan tersebut difokuskan pada deteksi dini gejala penyakit, terutama PMK yang menjadi perhatian serius pihaknya. Standar pengawasan untuk hewan kurban pun diterapkan lebih ketat dibandingkan ternak potong biasa, mengingat dagingnya akan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat.
“Nantinya saat ternak tiba, akan kami periksa kembali secara menyeluruh, baik dari sisi kesehatan maupun kelayakan sebagai hewan kurban,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)












