Wakil Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Ingkong Ala menyatakan sebagian besar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) belum terhubung secara sistematis dengan rantai pasok industri.
Karena itu, kata Ingkong Ala, Pemprov Kaltara menempatkan “Sinergi Kaltara” sebagai salah satu strategi untuk memastikan pertumbuhan investasi dan industri di daerah memberikan manfaat yang lebih luas bagi UMKM.
Dijelaskan, Sinergi Kaltara atau Sistem Integrasi Nilai Ekonomi Rantai Global Industri untuk Kalimantan Utara, diarahkan untuk menghubungkan investasi dan kawasan industri dengan pelaku usaha lokal.
“UMKM harus ikut menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi. Kita tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton,” kata Ingkong saat menyampaikan nota pengantar Rancangan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Perubahan APBD 2026, dalam Rapat Paripurna DPRD Kaltara, dikutip dari laman Diskominfo Kaltara, Rabu (9/9/2026).
Melalui Sinergi Kaltara, UMKM diintegrasikan dengan kebutuhan industri di Kawasan Industri Tanah Kuning-Mangkupadi. Ia menyebut, saat ini UMKM di Kaltara sekitar 51.840.
“Sinergi Kaltara diharapkan menjadi jembatan agar pertumbuhan investasi dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
“Prinsipnya sederhana, investasi harus membuka ruang bagi UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan memberi manfaat bagi masyarakat Kaltara,” lanjut Ingkong.
Penguatan ekonomi lokal tersebut, menjadi bagian dari arah pembangunan Kaltara ke depan. Pemprov Kaltara ingin setiap kebijakan dan anggaran yang disusun tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi secara angka, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. (fen)












