Merawat Sastra di Tengah Aroma Kopi

Lomba baca puisi bahasa Banua yang digelar di Arecoffe belum lama ini. (Setiawan/Disway Kaltim)

SIAPA bilang anak muda zaman sekarang cuma tahu cara merayu lewat status media sosial. Datang saja ke Bumi Batiwakkal. Di sebuah sudut kafe yang mengepulkan aroma kopi hangat, bait-bait puisi berbahasa daerah meluncur deras, dibacakan dengan penuh penghayatan oleh anak-anak usia sekolah dasar, remaja hingga orang dewasa.

Diany Artharini. Perempuan berlatar belakang sarjana sastra ini adalah otak di balik panggung kecil yang riuh oleh tepuk tangan tersebut. Pemilik UMKM Dhe’Saluna ini rupanya gelisah. Di tengah gempuran dunia digital yang serba instan, ia merasa sastra mulai tersisih ke pinggir jalan.

Daripada sekadar mengeluh di grup WhatsApp, Diany memilih membuktikan lewat tindakan nyata. Ia menggandeng Arecoffe, Sanggam Class Modeling, dan Disway Kaltim untuk menggelar sebuah hajatan, lomba baca puisi.

“Lomba ini lahir dari keresahan. Sebagai orang yang lama bergulat dengan sastra, saya ingin anak-anak muda kita kembali akrab dengan dunia kata-kata,” ujar Diany.

Gayung bersambut. Meski dikemas secara mandiri dan lokal, gaung acara ini ternyata meluas di luar dugaan. Sebanyak kurang lebih 30 peserta antusias mendaftar. Mulai dari bocah-bocah SD hingga kategori umum yang tampil memukau penonton.

Hebatnya lagi, antusiasme itu menembus hingga ke wilayah yang cukup jauh. Peserta terjauh datang Kecamatan Segah hanya demi membacakan bait-bait sajak.

Ada yang unik dari panggung puisi Dhe’Saluna kali ini. Panitia tidak membiarkan peserta membacakan karya-karya sastrawan nasional yang mungkin sudah klise. Mereka diwajibkan membawakan puisi berbahasa Banua, salah satu bahasa suku asli Kabupaten Berau, yang murni merupakan ciptaan seniman lokal Berau.

Diany sadar, sebuah gerakan tidak akan hidup jika berhenti pada satu malam acara saja. Karena itulah, ia mendeklarasikan visinya, kafe tersebut ke depan akan disulap menjadi rumah bersama. Sebuah wadah permanen bagi anak-anak muda pencinta sastra untuk berkumpul, berkreasi, mencurahkan isi kepala, dan merawat nalar kritis melalui bait-bait puisi.

“Ini baru permulaan. Kedepannya, acara seperti ini pasti akan kita laksanakan kembali dengan skala yang lebih meriah,” tegas Diany mantap. (Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *