UPAYA meningkatkan kualitas kakao di Kabupaten Berau terus dilakukan melalui pendampingan langsung kepada petani. Salah satunya lewat Program Pelatihan dan Pendampingan Perawatan Kakao Berbasis Konservasi yang digelar di Kampung Long Lanuk dan Dusun Nyapa Indah pada 17–18 Mei 2026.
Program yang diinisiasi PT Pamapersada Nusantara Site BRCB tersebut diikuti 29 petani kakao. Selama dua hari, peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik perawatan tanaman kakao yang tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil panen, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Instruktur pelatihan, Muhammad Syahrir dari Kalimajari mengajak para petani melihat perawatan kakao sebagai seni menjaga keseimbangan antara produktivitas kebun dan kelestarian alam. Ia juga memperkenalkan teknik pemangkasan cabang produktif, sanitasi kebun untuk mengurangi risiko serangan hama dan penyakit, hingga penerapan konservasi tanah dan air.
“Kalau pemangkasan, sanitasi, dan konservasinya benar, kakao Berau mampu menghasilkan panen berkualitas premium, berdaya saing, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan tempat mereka hidup,” katanya.
Tidak hanya menerima teori, para peserta juga diajak langsung mempraktekkan materi di kebun yang berada di dekat aliran sungai. Mereka mempraktekkan cara memangkas cabang yang tidak produktif, menanam pohon pelindung, hingga membuat rorak sebagai penampung air hujan untuk menjaga kelembaban tanah.
Sementara itu, Dept. Head CSR PAMA Berau, Faizal Imron mengatakan, keberhasilan perkebunan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan hidup.
“Selain merawat kebun kakao, petani juga harus merawat lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Koordinator LPB PAMA Bakat Batiwakkal, Agung Junazil, menilai perkebunan berbasis konservasi menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara hasil produksi dan kelestarian alam. Praktik sederhana seperti menjaga tutupan pohon pelindung, membuat rorak, dan menjaga kebersihan kebun memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan tanaman kakao.
“Dengan pendekatan ini, kebun tidak hanya menghasilkan panen berkelanjutan, tetapi juga menjaga ekosistem tetap hidup,” ujarnya.
Salah seorang peserta pelatihan, Rustam Ncau, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru terkait teknik perawatan kakao yang benar. Menurutnya, selama ini sebagian petani masih menggunakan cara-cara lama sehingga hasil panen belum maksimal.
“Selama ini cara perawatan kakao jauh dari standar. Dengan pelatihan ini kami berharap bisa konsisten menerapkan konservasi,” pungkasnya. (ADV/AZWINI)












