Pemadaman listrik bergilir dijanjikan PT PLN hanya hingga Juli 2026, dampak kerusakan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) bersamaan. Setiap kabupaten/kota mendampatkan giliran per tiga jam.
—————————–
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memastikan pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, yang dipicu gangguan pada dua pembangkit listrik yang mengalami kerusakan secara bersamaan.
Proses perbaikan pun diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan, dan ditargetkan selesai pada Juli 2026.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan manajemen PLN untuk membahas gangguan kelistrikan yang belakangan dikeluhkan masyarakat. Dari hasil pertemuan tersebut, diketahui dua pembangkit yang mengalami gangguan ialah PLTU Handil dan PLTU Tanjung Batu.
“Kami sudah bertemu dengan GM PLN. Memang dibutuhkan waktu sebulan untuk memperbaiki dua PLTU itu, PLTU Handil dan PLTU di Tanjung Batu,” ungkap Seno Senin, (29/6/2026).
Menurut Seno, kerusakan dua pembangkit yang terjadi dalam waktu bersamaan berdampak signifikan terhadap pasokan listrik di sistem interkoneksi Kalimantan. “Nah, yang bermasalah itu adalah dua PLTU ini rusak dalam waktu bersamaan. Itu mengurangi 250 MW, sehingga PLN melakukan pengurangan daya tiga jam, tiga jam, tiga jam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama proses perbaikan berlangsung, masyarakat di sejumlah daerah masih akan mengalami pemadaman bergilir. Namun, Pemprov Kaltim optimis kondisi tersebut hanya bersifat sementara.
“Sebulan ini akan bergiliran setiap provinsi, setiap kabupaten akan ada tiga jam waktu untuk mati lampu. Jadi bulan depan sudah semuanya tidak ada lagi masalahnya,” ucap Seno.
Seno juga memastikan, gangguan kelistrikan yang terjadi saat ini tidak berkaitan dengan penciutan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan maupun ketersediaan batu bara untuk pembangkit listrik.
“Kalau RKAB enggak. Karena DMO tetap. Kemudian yang bermasalah itu adalah dua PLTU ini rusak dalam waktu bersamaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pasokan batu bara untuk pembangkit listrik di Kalimantan Timur masih dalam kondisi aman. “Untuk kondisi pasokan batu bara masih aman. Untuk PLTU masih aman,” katanya.
Hal senada disampaikan Manajer PT PLN (Persero) UP3 Samarinda Adrian Situmpol. Ia mengatakan pemadaman bergilir dilakukan sebagai langkah menjaga keandalan, dan stabilitas sistem kelistrikan selama proses pemulihan pembangkit berlangsung.
“Kalau penyebab utamanya itu kan sama-sama kita sudah baca juga ya, terganggunya pembangkit kita. Kita saat ini sedang melakukan perbaikan. Sama-sama kami mohon doanya juga supaya pembangkit ini bisa segera beroperasi kembali sehingga pemadaman ini yang kita estimasikan akan berakhir di Juli,” kata Adrian.
Menurut Adrian, PLN berupaya mempercepat proses pemulihan agar pasokan listrik dapat kembali normal lebih cepat dari target yang telah ditetapkan. Namun, proses perbaikan tetap harus mengutamakan keselamatan kerja.
“Semoga bisa lebih cepat karena sama-sama kita ketahui namanya orang bekerja tentu harus aman juga. Jadi mohon doanya juga dari teman-teman semua dan masyarakat supaya pekerjaan ini bisa cepat selesai,” ujarnya.
Adrian menegaskan, gangguan pasokan listrik yang terjadi tidak berkaitan dengan kondisi keuangan PLN maupun dampak efisiensi anggaran pemerintah. “Alhamdulillah tidak, Pak. Semoga tidak, karena Kaltim juga insyaallah aman,” ucapnya.
Ia mengakui, pihaknya belum dapat menjelaskan secara rinci jenis kerusakan yang terjadi di pembangkit karena UP3 Samarinda hanya bertugas di bidang pelayanan pelanggan. “Saya di pelayanan pelanggan. Jadi saya hanya bisa bilang ini ada gangguan di pembangkit. Tapi kalau gangguannya apakah mesinnya, apakah boilernya atau seperti apa, kami kurang tahu juga,” jelas Adrian.
Lanjutnya, gangguan pembangkit tersebut berdampak terhadap seluruh wilayah yang berada dalam sistem interkoneksi kelistrikan Kalimantan. “Kalau sistem interkoneksi ya mulai dari Berau, Tanjung Selor, Bontang, Samarinda sampai Balikpapan. Semua kena dampaknya,” ungkapnya.
Untuk menjaga pasokan listrik selama masa perbaikan, PLN telah mengoperasikan seluruh sumber pembangkit yang tersedia, termasuk pembangkit diesel.
“Bahkan PLTD-PLTD pun sudah kita operasikan semua. Semua pembangkit sekecil apa pun kita operasikan karena tujuan kita sebenarnya pelayanan ke masyarakat,” tuturnya.
PLN berharap, proses perbaikan pembangkit dapat berjalan lancar. Sehingga sistem kelistrikan di Kalimantan dapat kembali normal sesuai target pada Juli 2026 atau bahkan lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan. (MAYANG SARI/ARIE)










