PEMKAB Berau menyayangkan insiden kandasnya kapal wisata jenis Live On Board (LOB) yang menyebabkan kerusakan terumbu karang di perairan Pulau Maratua. Peristiwa tersebut dinilai menjadi peringatan penting bagi seluruh pelaku wisata bahari untuk meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur pelayaran serta memperkuat upaya perlindungan ekosistem laut yang menjadi aset utama pariwisata daerah.
Wakil Bupati Berau, Gamalis menegaskan, kejadian kapal kandas yang merusak terumbu karang bukan kali pertama terjadi di wilayah perairan Berau. Karena itu, diperlukan langkah pencegahan yang lebih konkret melalui pengawasan, koordinasi, serta keterlibatan seluruh pihak yang beraktivitas di kawasan konservasi laut.
Menurutnya, kerusakan lingkungan akibat kapal kandas dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem bawah laut yang selama ini menjadi daya tarik wisata unggulan di Kepulauan Derawan dan Pulau Maratua.
“Ini bukan kasus yang pertama. Sudah beberapa kali terjadi kapal kandas yang berdampak pada kerusakan lingkungan laut. Karena itu ke depan harus ada langkah pencegahan yang lebih serius,” kata Gamalis, Rabu (24/6/2026).
Gamalis menilai keterlibatan pemandu lokal menjadi faktor penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan pelayaran, khususnya bagi kapal wisata yang berasal dari luar daerah dan belum memahami kondisi perairan di kawasan Maratua dan Derawan.
“Kalau mereka berkoordinasi dengan kecamatan atau masyarakat kampung, tentu bisa dibantu oleh pemandu lokal yang memahami jalur pelayaran,” ujarnya.
Dampak kerusakan terumbu karang tidak hanya terbatas pada hilangnya struktur karang secara fisik. Kerusakan tersebut juga berpotensi mengganggu habitat berbagai biota laut, menurunkan kualitas ekosistem pesisir, hingga memengaruhi keberlangsungan sektor pariwisata yang menjadi salah satu andalan ekonomi masyarakat Berau.
“Yang kita jual di Maratua ini adalah keindahan bawah lautnya. Kalau terumbu karang rusak, tentu ini menjadi kerugian besar bagi lingkungan dan pariwisata kita,” pungkasnya. (ADV/TR)










