Gejolak Ekonomi, Hitung Ulang HPP

UMKM tenun dan tas lokal di kawasan Samarinda. (DISWAY KALTIM/MAYANG SARI)

Di tengah kondisi ekonomi yang kurang baik, para pelaku usaha khususnya UMKM di Kalimantan Timur, perlu hitung-hitung modal dagangan, agar tak mengalami kerugian. Apalagi harga bahan baku mengalami kenaikan.

————–

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kalimantan Timur, meminta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai menghitung ulang harga pokok produksi (HPP) di tengah gejolak ekonomi global.

Langkah tersebut, dinilai penting agar pelaku usaha dapat menyusun strategi usaha secara tepat, saat biaya produksi mengalami perubahan akibat berbagai faktor eksternal.

Kepala Disperindagkop Kaltim, Heni Purwaningsih, mengatakan dinamika ekonomi global mulai memberi dampak terhadap aktivitas pelaku UMKM di daerah. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya risiko politik dunia, serta penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang ikut memengaruhi harga sejumlah bahan baku dan komponen produksi.

Pada perdagangan Minggu (5/7/2026), kurs dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp17.994 per dolar AS, mendekati level  Rp18.000. Nilai tukar tersebut masih berada pada level tinggi, dibandingkan rata-rata pergerakan dalam setahun terakhir.

Heni mengungkapkan, dampak kondisi tersebut mulai dirasakan pelaku UMKM di Kaltim. Sejumlah pelaku usaha telah menyampaikan keluhan kepada pemerintah daerah karena biaya produksi terus meningkat.

“Nah itu adanya risiko politik yang memengaruhi. Yang kemudian, kedua, dipengaruhi kenaikan harga dolar. Inilah imbasnya seperti itu. Keluhan sudah ada, sudah sampai ke kita,” ujar Heni dihubungi, Minggu, (5/7/2026) pagi.

Merespons kondisi tersebut, Disperindagkop Kaltim mengimbau, pelaku UMKM segera mengevaluasi kembali struktur biaya usahanya. Penghitungan ulang HPP dinilai menjadi langkah awal. Agar pelaku usaha mengetahui besaran biaya riil, dalam menghasilkan setiap produk sekaligus menentukan harga jual yang sesuai.

“Sehingga kita pun juga memberikan saran kepada UKM untuk bisa mulai menghitung kembali harga pokok produksinya, HPP-nya itu berapa,” sebutnya.

Selain menghitung ulang HPP, pelaku UMKM juga diminta mulai menyusun strategi, agar mampu mempertahankan usahanya. Penyesuaian pola produksi, efisiensi operasional, hingga penguatan pemasaran menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan sesuai kondisi masing-masing usaha.

Disperindagkop Kaltim, kata Heni, terus memberikan pendampingan kepada UMKM, agar mampu beradaptasi menghadapi tantangan tersebut. Pendampingan dilakukan melalui pembinaan usaha, penguatan kapasitas pelaku UMKM, hingga fasilitasi pengembangan pasar.

“Kemudian melakukan strategi-strategi bagaimana tetap bertahan di era-era seperti ini. Kita terus mendampingi mereka,” ucapnya.

Salah satu fokus pendampingan pemerintah daerah, ialah memperluas akses pasar, bagi produk UMKM Kalimantan Timur. Selama ini masih banyak pelaku usaha yang hanya mengandalkan penjualan di wilayah lokal, sehingga ruang pertumbuhan usahanya relatif terbatas.

Disperindagkop Kaltim, juga mendorong pelaku UMKM memanfaatkan berbagai saluran pemasaran. Supaya jangkauan konsumennya semakin luas, baik melalui perdagangan antardaerah maupun platform digital.

“Salah satunya juga bagaimana memperluas pasar mereka. Maksudnya yang tadinya lokal bisa kita perluas jangkauan pasarnya,” tutur Heni.

Selain memperluas pasar domestik, pemerintah daerah juga terus mendorong produk-produk UMKM Kaltim mampu menembus pasar ekspor. Upaya tersebut, dinilai menjadi salah satu peluang bagi pelaku usaha, untuk meningkatkan nilai jual produknya di tengah kondisi ekonomi global.

Heni menjelaskan, produk yang berhasil masuk ke pasar internasional memiliki peluang memperoleh nilai tambah lebih tinggi. Nilai transaksi ekspor yang mengikuti kurs dolar Amerika Serikat, dinilai dapat memberikan keuntungan lebih besar dibanding hanya mengandalkan pasar lokal.

“Bahkan kita bagaimana produk-produk UMKM itu semakin banyak yang masuk pasar ekspor. Karena kalau masuk pasar ekspor, kita bisa pastikan nilai tambahnya juga cukup besar karena mengikuti harga dolar,” ujarnya.

Menurut Heni, tantangan ekonomi global menuntut pelaku UMKM semakin adaptif dalam mengelola usahanya.  “Ini meliputi perencanaan biaya produksi, efisiensi operasional, serta perluasan akses pemasaran yang menjadi langkah penting. Karena kami berharap usaha lokal tetap memiliki daya saing di tengah perubahan kondisi ekonomi,” pungkasnya.

Disperindagkop Kaltim memastikan, pendampingan terhadap pelaku UMKM akan terus dilakukan, mulai dari peningkatan kapasitas usaha hingga pembukaan peluang pasar yang lebih luas. Langkah tersebut diharapkan, membantu UMKM tetap berkembang meski menghadapi tekanan ekonomi global yang berdampak terhadap biaya produksi dan aktivitas usaha. (MAYANG SARI/ARIE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *