ABRASI di Pulau Derawan kian mengancam permukiman, garis pantai yang terus terkikis mulai merusak bangunan yang berdiri di tepi laut, memicu kekhawatiran keberlanjutan destinasi wisata unggulan Berau itu.
Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika mengungkapkan, dampak abrasi kini semakin nyata. Saat ini, sedikitnya lima bangunan dilaporkan telah hilang akibat tergerus ombak, sementara sejumlah bangunan lain berada dalam kondisi rawan.
“Sudah lama kami usulkan penanganan ini, hampir setiap tahun diajukan, tapi sampai sekarang belum terealisasi. Kondisinya semakin parah,” ujarnya.
Ia menilai, kerusakan yang terjadi tidak hanya mengancam pemukiman warga, tetapi juga fasilitas wisata seperti resort yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Jika tidak segera ditangani, abrasi dikhawatirkan akan mempercepat penurunan kualitas kawasan wisata Derawan.
Menurut Indra, perlindungan garis pantai saat ini menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda. Ia menekankan pentingnya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk menjaga eksistensi pulau yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon pariwisata di Kalimantan Timur.
“Derawan ini salah satu aset pariwisata kita. Harus ada perhatian serius supaya tidak terus-terusan terkikis,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Berau, Hendra Pranata mengungkapkan, rencana pembangunan penahan abrasi sebenarnya telah melalui sejumlah tahapan. Namun, realisasinya masih bergantung pada kewenangan pemerintah pusat.
“Prinsipnya itukan kewenangan dari pusat, saat ini kita masih menunggu izin dari sana, kalau sudah ada baru kita bisa eksekusi,” jelasnya, Selasa (28/4/2026).
Proses perencanaan telah disusun lebih dulu, kemudian dilanjutkan dengan pengurusan izin lingkungan pada fase berikutnya. Namun, tahapan tersebut tidak berjalan mulus.
“Izin lingkungan itu sempat tertunda karena ada tambahan persyaratan, sehingga prosesnya molor dan pekerjaan belum bisa dilanjutkan,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)












