Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan waspada potensi banjir di wilayah Kalimantan. Karena pada November ini telah memasuki musim hujan.
Dua provinsi di Pulau Kalimantan yang berpotensi terjadi banjir yaitu Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.
Prakirawan cuaca BMKG, M. Hakiki, menyebut sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki hujan pada akhir November hingga awal Desember 2026.
Sedangkan wilayah Indonesia bagian timur diperkirakan mengalami musim hujan pada Desember 2026, karena pengaruh kondisi geografis.
“Awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan,” ungkap Hakiki, dikutip dari Disway.id, Selasa (3/11/2026).
Sebagian besar wilayah, 24 persen luas daratan Indonesia dan pada Desember 17 persen luas daratan Indonesia.
Selain itu, musim hujan tahun ini juga diprediksi lebih singkat dengan karakteristik curah hujan yang lebih hebat.
Maka dari itu, BMKG menilai perlu adanya peningkatan kewaspadaan terhadap potensi risiko bencana seperti banjir dan longsor.
“Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah wilayah masih mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjitan, melaporkan adanya penurunan luas lahan terbakar secara signifikan di beberapa provinsi dibandingkan catatan hari sebelumnya.
Secara nasional, akumulasi luas lahan yang terbakar di beberapa wilayah terpantau mengalami tren penurunan.
“Kami bisa menyampaikan ada 742 hektare lahan terbakar yang berasal dari Kalimantan Tengah, di mana luas lahannya sebanyak 351 hektare atau turun 24 persen dari hari sebelumnya,” kata Berton.
Kendati demikian, BNPB mencatat kemunculan titik api baru di beberapa wilayah yang sebelumnya belum melaporkan kejadian serupa secara masif.
“Artinya, untuk Kalimantan maupun tempat lain, walaupun musim hujan masih berpotensi terjadi titik-titik api baru, mengingat api atau bara api yang ada di bawah permukaan masih belum 100 persen padam akibat hujan yang sudah terjadi akhir-akhir ini,” tuturnya. (fen)












