Pemenuhan kebutuhan listrik di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T masih menjadi “pekerjaan rumah” bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Berdasarkan data, sekitar 73 hingga 123 desa di Kaltara yang belum teraliri listrik. Sebagian besar berada di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, di Kabupaten Nunukan dan Malinau.
Upaya pun terus dilakukan Pemprov Kaltara, agar warga di desa-desa tersebut bisa segera menikmati listrik. Bahkan, Pemprov Kaltara menargetkan sekitar 10 hingga 20 desa dapat teraliri listrik setiap tahunnya.
Selain itu, upaya lain yaitu dengan melistriki desa-desa di perbatasan Indonesia-Malaysia dengan energi terbarukan. Misal, menggunakan pembangkit listrik tenaga surya.
Jumat (10/4/2026), Wakil Gubernur Kaltara, Ingkong Ala, meninjau pabrik PT Santinilestari Energi Indonesia di Pasuruan, yang bergerak di bidang energi terbarukan.
Ingkong mengatakan, masih banyak masyarakat di pedalaman dan perbatasan yang belum menikmati akses listrik dan internet. Salah satu solusi cepat adalah dengan penggunaan tenaga surya.
“Layanan dasar seperti listrik ini punya peran penting bagi masyarakat di pedalaman. Pemprov Kaltara terus berusaha memenuhi kebutuhan tersebut secara bertahap,” kata Ingkong, dikutip dari laman Diskominfo Kaltara, Senin (13/4/2026).
Penggunaan pembangkit tenaga surya, karena menurutnya, kondisi geografis Kaltara menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan infrastruktur listrik dan internet.
“Kita terus mencari alternatif selain layanan PLN, salah satunya melalui pemanfaatan energi surya,” imbuhnya. (fen)












