Ekonomi Kaltim Diklaim Masih Tumbuh, Pengangguran Capai 111 Ribu Orang

Perekonomian di Kaltim masih tumbuh perlahan. Perdagangan menjadi salah satu penyumbangnya yang cukup besar.

Dalam kondisi saat ini, ternyata perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim), masih tumbuh positif hingga triwulan II. Bahkan, masih menjadi yang terbesar di tingkat regional. Sayangnya, pengangguran masih mencapai 100 ribu orang.

—————————-

Perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim) tumbuh 3,35 persen, secara tahunan pada Triwulan II-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja sejumlah lapangan usaha, terutama perdagangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta aktivitas ekspor barang dan jasa.

Kepala BPS Provinsi Kaltim Mas’ud Rifai mencatat, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp246,66 triliun pada Triwulan II-2026. Sementara itu, berdasarkan harga konstan, nilai ekonomi Kaltim tercatat sebesar Rp152,92 triliun. Secara kumulatif, ekonomi Kaltim pada Semester I-2026 tumbuh 3,17 persen dibandingkan Semester I-2025.

Perkembangan tersebut menunjukkan perekonomian Kaltim masih bergerak positif di tengah perbedaan kinerja antarbidang usaha. Secara triwulanan, ekonomi Kaltim tumbuh 2,62 persen dibandingkan Triwulan I-2026, setelah sebelumnya mengalami kontraksi 3,69 persen.

“Sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur perekonomian Kaltim. Lapangan usaha ini berkontribusi 34,49 persen terhadap PDRB dan tumbuh 1,43 persen secara tahunan, didorong peningkatan produksi batu bara serta volume dan nilai ekspor luar negeri,”jelasnya, Senin (19/10/2026).

Industri pengolahan di posisi berikutnya dengan kontribusi 20,10 persen dan pertumbuhan 2,28 persen. Kinerja sektor ini didukung optimalisasi produksi kilang minyak dan gas bumi, pengolahan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) beserta turunannya, serta industri kimia.

Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan 2,79 persen dengan kontribusi 11,28 persen. Aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), proyek pabrik soda ash di Bontang, pembangunan PLTA Batoq Kelo, serta pembangunan hotel dan perumahan turut menopang kinerja sektor tersebut.

Di antara berbagai lapangan usaha, penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,79 persen. Peningkatan okupansi hotel, penyelenggaraan berbagai kegiatan, serta perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan tersebut.

Sementara itu, perdagangan besar dan eceran tumbuh 11,47 persen. Pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas perdagangan menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah, bersama sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh 12,62 persen serta pengadaan listrik dan gas yang meningkat 11,51 persen.

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh 6,72 persen dengan kontribusi sebesar 128,86 persen terhadap PDRB. Kinerja ekspor didorong permintaan batu bara, produk kilang minyak dan gas, bahan kimia, CPO, serta peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara yang menopang ekspor jasa.

Konsumsi rumah tangga turut tumbuh 4,07 persen. Aktivitas masyarakat selama hari besar keagamaan, liburan sekolah, serta peningkatan transaksi nontunai dan perdagangan elektronik ikut mendukung pengeluaran rumah tangga.

Sebaliknya, konsumsi pemerintah mengalami kontraksi 0,83 persen. Kondisi ini dipengaruhi kebijakan efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran pendapatan dan belanja daerah oleh pemerintah daerah.

Di sektor ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja di Kaltim pada Mei 2026 mencapai 2,012 juta orang. Angka tersebut bertambah sekitar 17,70 ribu orang dibandingkan Februari 2026.

Jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 2,124 juta orang, sedangkan penduduk yang masuk kategori pengangguran mencapai 111,37 ribu orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 5,24 persen, turun dari 5,27 persen pada Februari 2026.

Meski mengalami penurunan, kondisi ketenagakerjaan masih menunjukkan perbedaan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. TPT di perkotaan mencapai 5,42 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 4,77 persen.

Berdasarkan lapangan usaha, pertanian masih menyerap tenaga kerja terbesar dengan proporsi 19,01 persen. Perdagangan besar dan eceran menyusul dengan kontribusi 17,40 persen, sedangkan penyediaan akomodasi dan makan minum menyerap 9,52 persen dari total penduduk bekerja.

Pekerja formal mencakup 55,61 persen atau sekitar 1,119 juta orang. Sementara itu, pekerja informal mencapai 44,39 persen atau sekitar 893,56 ribu orang.

Pada sektor kemiskinan, BPS mencatat persentase penduduk miskin Kaltim pada Maret 2026 sebesar 5,14 persen. Angka tersebut turun 0,05 poin persentase dibandingkan September 2025 yang mencapai 5,19 persen.

“Jumlah penduduk miskin juga berkurang dari 202,04 ribu orang pada September 2025 menjadi 200,64 ribu orang pada Maret 2026. Namun, perbedaan kondisi kemiskinan antara perkotaan dan perdesaan masih terlihat,”terangnsya.

Persentase penduduk miskin di perkotaan tercatat 4,15 persen, sedangkan di perdesaan mencapai 7,42 persen. Angka kemiskinan perdesaan bahkan meningkat dibandingkan September 2025 yang sebesar 7,24 persen.

Di tingkat regional, Kaltim masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Pulau Kalimantan dengan kontribusi 46,70 persen. Meski demikian, pertumbuhan tahunan Kaltim sebesar 3,35 persen masih berada di bawah Kalimantan Barat yang tumbuh 5,61 persen dan Kalimantan Selatan sebesar 5,28 persen.(ari rachim/arie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *