ANGIN segar berhembus bagi warga Bumi Batiwakkal. Setelah berbulan-bulan berjibaku dengan cuaca panas akibat musim kemarau, langit Berau beberapa hari terakhir mulai turun hujan. Hujan terpantau turun secara merata dan menyiram hampir seluruh kecamatan di wilayah tersebut.
Kabar baik ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau, Ade Heryadi. Menurutnya, fenomena turunnya air dari langit ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa fase puncak kekeringan perlahan mulai melandai.
“Cuaca pada umumnya berawan dengan potensi hujan sore dan malam hari di beberapa wilayah,” ujar Ade Heryadi, Selasa (29/9/2026).
Meskipun hujan sudah mulai turun membasahi, Ade mengingatkan bahwa secara klimatologis, wilayah Berau hingga pengujung September ini masih berada di dalam periode musim kemarau. Berdasarkan catatan data stasiun meteorologi, jumlah curah hujan yang tercatat sejauh ini masih berada di kisaran 61 milimeter.
Kendati demikian, ada perubahan pola cuaca yang cukup signifikan dibanding pekan-pekan sebelumnya. Hari Tanpa Hujan (HTH) tercatat menjadi jauh lebih pendek. BMKG Berau memprediksi fase transisi menuju musim hujan akan tuntas sepenuhnya pada bulan November mendatang. Secara lebih spesifik, pembalikan arah angin dan dimulainya musim hujan secara utuh diprediksi bakal terjadi pada dasarian II dan dasarian III bulan November.
Dengan mulai rutinnya hujan turun di penghujung September ini, kekhawatiran masyarakat terhadap krisis air bersih maupun potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diharapkan bisa tereduksi secara signifikan.
“Beberapa wilayah memang kekeringan, termasuk di wilayah Kota, karena terdampak intrusi air laut. Dan tentunya ini juga hal baik untuk situasi Karhutla di Berau,” tandasnya. (SETIAWAN)












