Kabupaten Berau menjadi daerah prioritas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) saat ini. Namun, jika 5 hari tidak ada perkembangan, maka operasi distop. Apalagi, saat ini penyebaran awan tak menentu.
———————————————–
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kabupaten Berau, menghadapi tantangan serius di lapangan. Faktor dinamika atmosfer berupa penyebaran awan yang tidak menentu dan minimnya pertumbuhan awan hujan menjadi kendala utama dalam upaya penanganan darurat melalui penyemaian garam.
Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Masyhadi Mundi mengungkapkan, bahwa kondisi tersebut terpantau langsung saat tim melakukan pemantauan udara dan darat pada Selasa (24/8/2026). Menurutnya, potensi awan yang ada justru bergerak meninggalkan wilayah Berau menuju daerah tetangga.
“Tadi kami pantau, awan itu bergerak ke wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) jadi tidak dilakukan penyemaian,” ujarnya saat ditemui oleh awak media.
Masyhadi menjelaskan, operasi ini sejatinya telah memetakan sejumlah kawasan strategis yang menjadi sasaran prioritas penyemaian garam.
Mulai dari wilayah Teluk hingga Kelay, Kecamatan Sambaliung, Kecamatan Gunung Tabur hingga Tanjung Batu. Namun, harapan agar proses pembentukan awan (cloud seeding) dapat terpusat di titik-titik tersebut belum terwujud secara maksimal akibat faktor cuaca yang dinamis.
“Seandainya bisa, tentu kami maunya di mana ada api, di situ hujan terjadi,” Harapnya.
Lebih lanjut, Masyhadi menegaskan, bahwa OMC sangat diharapkan menjadi instrumen efektif untuk mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap mengancam wilayah Berau seiring meningkatnya suhu panas.
“Terlepas dari kendala yang ada, kita semua harus tetap optimis,” tegasnya.
Pihaknya bersama tim teknis, terus memantau pergerakan angin dan kelembapan udara secara berkala. Langkah ini diambil agar setiap ada pertumbuhan awan potensial di atas kawasan sasaran, tim dapat segera mengambil tindakan cepat.
“Dari pagi hingga siang ini, pesawat dari BNPB belum dioperasikan, menunggu pembentukan awan. Jika sudah ada potensi, bahan baku dan tim sudah siap untuk lepas landas menyemai garam,” pungkasnya.
Lima Hari Potensi Awan Tak Terbentuk, BNPB RI Stop Operasi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia membatasi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kabupaten Berau hanya selama lima hari. Penghentian operasi akan dilakukan kendati hujan belum turun, apabila dari hasil evaluasi dinilai tidak lagi efektif.
Hal tersebut diungkapkan oleh Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB RI, Tono Sumarsono, saat ditemui di Bandar Udara Kalimarau.
Tono menjelaskan, keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan modifikasi cuaca didasarkan pada berbagai pertimbangan matang, termasuk aspek efisiensi anggaran dan potensi keberhasilan di lapangan.
“Kalau memang tidak efektif, melihat potensi dan dari sisi efesiensi anggaran tentu kami harus pertimbangkan untuk melanjutkan operasi ini,” tegas Tono.
Lanjutnya, bahwa permohonan yang diajukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, sebelumnya tidak mencantumkan tenggat waktu khusus untuk pelaksanaan OMC. Meski demikian, BNPB mengerahkan tim telaah khusus yang bekerja secara objektif dan ilmiah untuk mengukur tingkat keberhasilan di wilayah sasaran.
Menurutnya, durasi waktu yang terbatas menuntut ketepatan kalkulasi agar pembiayaan negara selama operasi berjalan tepat sasaran dan akuntabel.
“Kalau memang kurun waktu yang ada tidak memungkinkan, maka akan stop operasi. Tentu, kita harus memikirkan juga pembiayaan selama operasi,” tambahnya.
Tono menambahkan, jika potensi pertumbuhan awan baru terlihat pada hari kelima pelaksanaan, timnya akan segera melakukan evaluasi menyeluruh dan melaporkan hasilnya kepada pimpinan BNPB Pusat di Jakarta.
Langkah ini juga disesuaikan dengan status darurat di berbagai wilayah lain di Indonesia yang mengalami tantangan serupa.
“Yang kekeringan bukan hanya Berau, tentu menunggu instruksi lagi. Kenapa sampai kami tiba di Berau, karena memang daerah ini menjadi prioritas,” Ucap Tono.
Meski demikian, pihak BNPB tetap menaruh harapan besar agar dinamika atmosfer di langit Berau menunjukkan tren positif selama lima hari ke depan, sehingga permasalahan kekeringan dan karhutla dapat segera teratasi.
“Semoga sesuai harapan. Awannya tumbuh di titik yang dibutuhkan,” pungkasnya. (Setiawan/arie)












