Ekspedisi TTA ke Kaltara

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Kaltara, Sapi’i menyambut tim ekspedisi TTA, di Tanjung Selor, Minggu (23/8/2026) malam.///IST

Tim ekspedisi Arsitektur Lintas Borneo tiba di Kalimantan Utara (Kaltara), akhir pekan lalu, setelah menempuh perjalanan dari Brunei Darussalam dan Sabah, Malaysia.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Kaltara, Sapi’i, mengatakan perjalanan tim ekspedisi tersebut menjadi bagian dari Tanju Tanjung Arsitektur (TTA) seri ke-5, yang digagas Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Menurutnya, makna perjalanan tim ekspedisi tersebut jauh lebih dalam daripada sekadar melihat bentuk bangunan di tempat-tempat yang disinggahi.

“Yang dilihat bukan hanya bangunan. Di dalamnya ada cerita dan nilai yang menggambarkan identitas masyarakat,” kata Sapi’i, dikutip dari laman Diskominfo Kaltara, Senin (24/8/2026).

Lanjutnya, perjalanan TTA seri ke-5 pun menjadi gambaran bahwa sejarah Borneo tidak berdiri sendiri-sendiri. Meski kini terbagi dalam batas administratif beberapa negara, yakni Brunei, Malaysia, dan Indonesia, tapi memiliki keterhubungan sejarah dan budaya yang panjang.

Di Kaltara, kata Sapi’i, cerita itu dapat ditemukan dalam sejumlah peninggalan yang masih bertahan hingga saat ini. Balai Teras Nawang di Desa Teras Nawang, misalnya, menjadi salah satu jejak arsitektur dan sejarah yang masih dapat dikenali.

Begitu pula peninggalan Kesultanan Bulungan dan Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas. Sementara di Tarakan, Rumah Bundar, Balai Adat Tidung, serta lanskap peninggalan kawasan Pertamina menyimpan cerita masing-masing tentang perjalanan daerah ini.

Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara berharap perjalanan tim ekspedisi tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman melihat bangunan lama. Namun, jejak yang ditemukan di sepanjang perjalanan diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para arsitek untuk menciptakan karya baru yang tetap memiliki hubungan dengan tempat dan masyarakatnya.

Sapi’i mengingatkan bahwa pembangunan dan modernisasi akan terus berjalan. Namun, kemajuan tersebut sebaiknya tidak membuat daerah kehilangan wajah dan akar budayanya. (fen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *