KABUPATEN Berau tak hanya dikenal dengan wisata baharinya. Di balik itu, wilayah dengan julukan Bumi Batiwakkal ini juga menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati daratan yang tak kalah memikat.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah keberadaan bekantan, primata endemik Kalimantan yang kini menjadi magnet wisata edukasi di Kampung Pulau Besing. Inisiatif tersebut digerakkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), yang mengembangkan paket wisata susur sungai sebagai andalan utama.
Ketua Pokdarwis Pulau Besing, Aprianto mengungkapkan, paket wisata ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung berinteraksi dengan habitat alami satwa khas Kalimantan. Dalam perjalanan menyusuri sungai, wisatawan berkesempatan melihat bekantan di alam liar, serta kalong, kelelawar berukuran besar yang kerap muncul di kawasan tersebut.
“Daya tarik utamanya tentu bekantan. Tapi tidak jarang pengunjung juga menjumpai kalong dan satwa lain yang hidup di sepanjang aliran sungai,” kata Aprianto, Senin (20/4/2026).

Aprianto menjelaskan, untuk menjangkau berbagai wisatawan, pihaknya menyediakan dua pilihan paket. Paket pertama dengan titik keberangkatan dari Pelabuhan Rajjanta, Tanjung Redeb dibanderol Rp1,5 juta per perjalanan. Sementara opsi kedua berangkat langsung dari Pelabuhan Kampung Pulau Besing dengan tarif Rp600 ribu. Setiap perjalanan dibatasi maksimal delapan orang. Durasi susur sungai bervariasi, bergantung pada intensitas perjumpaan dengan satwa. Namun secara umum, perjalanan berlangsung antara satu hingga satu setengah jam.
Aprianto mengatakan pengembangan wisata di Pulau Besing tidak berjalan sendiri. Pokdarwis yang dibentuk melalui surat keputusan kepala kampung tersebut menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kampung hingga tingkat provinsi, serta dukungan sektor swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana.
Keterlibatan masyarakat lokal menjadi salah satu kunci utama dalam pengelolaan destinasi ini. Warga yang memiliki perahu dilibatkan sebagai operator wisata, sementara pelaku usaha atap nipah turut diikutsertakan untuk memperkenalkan kearifan lokal sebagai bagian dari atraksi budaya.
“Partisipasi masyarakat sangat penting. Selain memperkuat ekonomi lokal, ini juga menjadi cara menjaga keberlanjutan wisata,” pungkasnya. (MAULIDIA AZWINI)












