MUSIM kemarau yang melanda Kabupaten Berau diprediksi masih akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kalimarau, musim kemarau di wilayah Bumi Batiwwakal ini diperkirakan baru akan berakhir pada Januari 2027 mendatang.
Kepala BMKG Berau, Ade Haryadi mengungkapkan, durasi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya ini sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim global, khususnya fenomena El Nino yang tengah aktif dan berdampak langsung terhadap pola curah hujan di wilayah Berau.
“Berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer dan laut terkini, kemarau di Berau diperkirakan masih akan terus berlangsung dan baru akan tuntas hingga Januari 2027. Hal ini secara dominan dipicu oleh dampak fenomena El Nino,” ujar Ade, Senin (24/8/2026).
Ade menjelaskan, kehadiran fenomena El Nino menyebabkan pasokan uap air ke wilayah atmosfer regional mengalami hambatan yang cukup signifikan. Akibatnya, potensi pembentukan awan hujan di atas langit Berau menjadi sangat minim, yang kemudian berimbas pada drastisnya penurunan curah hujan selama beberapa bulan ke depan.
“Kalau dari data kami, memang curah hujan akan sangat minim, apalagi ditambah adanya fenomena El Nino yang memperkuat musim kering ini,” tuturnya.
Ia merincikan, penurunan curah hujan tersebut terlihat sangat drastis pada periode Agustus ini. Intensitas hujan di Berau tercatat baru berada di angka 25 milimeter, turun jauh jika dibandingkan dengan periode normal sebelumnya yang biasanya mencatat curah hujan hingga 110 milimeter per bulan.
“Kalau berdasarkan persentase, curah hujan di bulan ini baru tercatat sekitar 30 persen dari rata-rata normalnya,” tegas Ade.
Menghadapi proyeksi kemarau panjang hingga awal tahun depan ini, pihak BMKG mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam memanfaatkan kebutuhan air bersih serta menghindari segala bentuk aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar guna mencegah meluasnya bencana lingkungan di tengah cuaca ekstrem.
“Ini juga yang menyebabkan suhu di Berau menjadi lebih panas,” tandasnya. (SETIAWAN)












