KENAIKAN harga Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Berau. Namun bagi sebagian warga, persoalan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) justru dianggap lebih mengganggu dibandingkan kenaikan harga itu sendiri.
Kondisi antrean yang kerap terjadi di sejumlah SPBU maupun Pertashop membuat sebagian masyarakat memilih membeli BBM eceran meskipun harus membayar dengan harga yang lebih tinggi. Pilihan tersebut diambil demi menghemat waktu dan menjaga aktivitas sehari-hari tetap berjalan lancar.
Salah seorang warga Tanjung Redeb, Ilham Saputra(35), mengaku lebih sering membeli BBM eceran ketika memiliki keperluan mendesak. Menurutnya, waktu yang dihabiskan untuk mengantre di SPBU sering kali tidak sebanding dengan kebutuhan mobilitas yang harus segera dipenuhi.
“Kalau sedang buru-buru bekerja, saya lebih memilih beli eceran. Memang harganya lebih mahal, tetapi tidak perlu antre panjang. Kadang antre sampai lebih dari satu jam, apalagi saat kondisi ramai. Di Pertashop juga sering sama, banyak kendaraan yang mengisi berulang kali,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Ilham menilai, antrean panjang telah menjadi pemandangan yang cukup sering terjadi di sejumlah titik pengisian BBM di Berau. Situasi tersebut membuat masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi terpaksa mencari alternatif agar pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari tidak terganggu.
Menurutnya, persoalan waktu kini menjadi pertimbangan utama bagi banyak warga. Meski harga BBM mengalami kenaikan, sebagian masyarakat lebih memilih mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli BBM eceran dibanding harus kehilangan waktu berjam-jam di antrean.
Keluhan serupa disampaikan Nurhayatun (42), warga Kecamatan Sambaliung. Ia mengakui kenaikan harga BBM memberikan dampak terhadap pengeluaran rumah tangga. Namun dalam keseharian, antrean panjang saat mengisi bahan bakar justru menjadi persoalan yang lebih sering dirasakan.
“Tentu kenaikan harga BBM terasa bagi kami. Tetapi yang lebih sering menjadi masalah adalah antreannya,” pungkasnya. (TR)












