Pengolahan sampah masih belum maksimal, timbulan masih lebih besar dibandingkan dengan pengolahannya. Bahkan tak sampai 20 persen.
——————————-
Jumlah sampah yang berhasil diolah di Kalimantan Timur menunjukkan peningkatan dalam lima tahun terakhir. Namun, capaian tersebut baru mencakup sekitar 17 persen dari total timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat setiap tahun.
Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Timur menunjukkan, total timbulan sampah terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2020, timbulan sampah tercatat sebesar 601.375,66 ton. Angka tersebut naik menjadi 718.865,78 ton pada 2021, kemudian 791.828,97 ton pada 2022, 809.331,64 ton pada 2023, dan mencapai 851.605,52 ton pada 2024.
Di sisi lain, volume sampah yang berhasil diolah juga mengalami peningkatan. Pada 2020, jumlah sampah yang terolah mencapai 85.054 ton. Angka tersebut meningkat menjadi 97.216 ton pada 2021, kemudian menjadi 133.061 ton pada 2022. Pada 2023, sampah yang terolah mencapai 135.670 ton dan meningkat menjadi 142.822 ton pada 2024.
Persentase sampah yang terolah masih berada di bawah 20 persen dari total timbulan sampah. Pada 2020, tingkat pengolahan sampah mencapai 14,14 persen dari total timbulan sampah. Persentase itu turun menjadi 13,52 persen pada 2021 sebelum meningkat menjadi 16,80 persen pada 2022. Pada 2023 dan 2024, angka tersebut berada di kisaran 16,76 persen dan 16,77 persen.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Timur, Joko Istanto, mengatakan peningkatan pengelolaan sampah perlu dilakukan mulai dari tingkat rumah tangga hingga fasilitas pengolahan akhir.
Menurut dia, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Bank sampah bukan sekadar program pengelolaan sampah, tetapi merupakan gerakan perubahan perilaku masyarakat menuju ekonomi sirkular yang bernilai tambah,” kata Joko Minggu, (31/5/2026).
Ia menjelaskan, keberadaan bank sampah dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai jual.
Joko mengatakan, masih terdapat sejumlah tantangan yang memengaruhi tingkat pengolahan sampah di Kaltim. Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan fasilitas pengolahan sampah di sejumlah daerah.
Selain itu, sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah masih belum merata. Beberapa wilayah menghadapi keterbatasan armada dan akses menuju fasilitas pengolahan sehingga sebagian sampah belum dapat tertangani secara maksimal.
Faktor rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah, juga menjadi tantangan. Sampah yang tercampur antara organik dan anorganik, membuat proses pengolahan menjadi lebih sulit serta mengurangi potensi daur ulang.
DLH Kaltim juga mendorong pengembangan berbagai inovasi dalam pengelolaan sampah, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan modern dan pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.
Terkait hal itu, Joko sebelumnya menyatakan pemerintah provinsi berupaya memfasilitasi berbagai kerja sama untuk mendukung pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di Kaltim. “Kami memfasilitasi penyusunan kerja sama agar operasional proyek ini ke depan berjalan lancar,” ujarnya.
Menurut dia, penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus menghasilkan pasokan energi.
Upaya peningkatan pengelolaan sampah menjadi perhatian seiring pertumbuhan pembangunan di Kalimantan Timur, termasuk dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi diperkirakan akan berdampak pada peningkatan volume sampah di masa mendatang.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah melalui peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan, pengembangan bank sampah., Serta edukasi kepada masyarakat, untuk melakukan pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Dengan total timbulan sampah mencapai lebih dari 851 ribu ton pada 2024, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan persentase sampah yang terolah. Pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dapat mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan di Benua Etam.
“Pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Diperlukan keterlibatan seluruh pihak agar pengurangan dan pengolahan sampah dapat berjalan lebih optimal di Kalimantan Timur,” pungkasnya. (MAYANG SARI/ARIE)












