UPAYA melestarikan kearifan lokal di Kabupaten Berau memasuki babak baru. Mata pelajaran Bahasa Banua yang selama ini digagas akan menjadi mata pelajaran muatan lokal, kini telah menyelesaikan tahap uji publik dan bersiap diterapkan secara bertahap di sekolah.
Dinas Pendidikan Berau memastikan, implementasi awal akan difokuskan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebelum nantinya diperluas ke tingkat Sekolah Dasar (SD). Kebijakan ini ditujukan agar penguatan identitas budaya daerah dapat ditanamkan sejak dini kepada para pelajar.
Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah menyampaikan, hasil uji publik menjadi landasan penting untuk melanjutkan Bahasa Banua sebagai muatan lokal tetap.
“Tahap uji publik sudah kita lalui. Selanjutnya, program ini siap dijalankan sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal, dimulai dari SMP,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Seluruh SMP di Kabupaten Berau, baik negeri maupun swasta telah disiapkan untuk mengadopsi mata pelajaran tersebut. Secara keseluruhan, sekira 60 sekolah ditargetkan mulai menerapkan Bahasa Banua dalam waktu dekat. Dari sisi kesiapan tenaga pengajar, Mardiatul menilai tidak ada kendala berarti. Pada tahap awal, setiap sekolah minimal akan memiliki satu guru yang ditugaskan mengampu mata pelajaran tersebut. Menariknya, pengajar tidak harus berasal dari latar belakang tertentu.
“Guru dari berbagai disiplin ilmu bisa mengajar, mulai dari seni, budaya, hingga bahasa Indonesia. Yang terpenting, mereka memiliki kemampuan berbahasa Banua,” jelasnya.
Sementara itu, kurikulum Bahasa Banua dirancang secara integratif. Materi yang diajarkan mencakup empat aspek utama, yakni bahasa, kuliner, seni, dan budaya. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan tidak hanya memahami bahasa, tetapi juga konteks sosial dan budaya yang menyertainya. (MAULIDIA AZWINI)












