AKTIVITAS penerbangan di Kabupaten Berau menghadapi gangguan serius. Menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Kepulan asap tebal terpantau menyelimuti kawasan Bandar Udara Kalimarau dan berdampak langsung terhadap jarak pandang operasional penerbangan.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Bandar Udara Kalimarau, Patah Atabri, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca di sekitar bandara pada pagi ini, Selasa (1/9/2026), mengalami penurunan drastis akibat paparan asap. Berdasarkan pemantauan instrumen penerbangan di lapangan, jarak pandang horizontal mengalami degradasi yang cukup signifikan.
“Kondisi di Bandar Udara Kalimarau pada tanggal 1 September 2026 terjadi penurunan jarak pandang antara 1.800 hingga 5.000 meter,” ujarnya.
Fluktuasi jarak pandang yang menyusut hingga di angka 1.800 meter tentu memerlukan kewaspadaan ekstra bagi maskapai yang akan melakukan pendaratan maupun penerbangan dari Bandara Kalimarau. Standar keselamatan operasional penerbangan sangat bergantung pada visibilitas atau jarak pandang minimal demi memastikan keselamatan penumpang dan kru pesawat.
“Untuk penerbangan selanjutnya, tentu kami memantau kondisi jarak pandang. Jika memungkinkan, maka akan terbang, jika tidak makan akan menunggu hingga batas aman,” katanya.
Pihaknya terus memantau perkembangan cuaca dan sebaran asap secara berkala berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Langkah antisipatif ini diambil guna memberikan panduan yang akurat bagi maskapai penerbangan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Berau di tengah situasi cuaca yang kurang bersahabat ini.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau Stamet Kalimarau, Ade Haryadi mengatakan, kabut asap di Berau memang cukup tebal. Pada pagi hari, kata dia, jarak pandang hanya 700 meter.
“Hari Minggu kemarin, jarak pandang di Bandara Kalimarau hanya 700 meter,” pungkasnya. (SETIAWAN)












