Panggung Inklusi Anak Istimewa, Angkat Kisah Kue Sarang Semut Derawan

Pertunjukan teater anak inklusi berjudul “Kue Itu Bernama Sarang Semut”. (IST)

PERTUNJUKAN Teater Anak Inklusi bertajuk “Waktunya Main” sukses digelar di Kabupaten Berau dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Kegiatan yang menghadirkan sekitar 300 penonton tersebut menjadi pertunjukan istimewa karena seluruh pemain utamanya merupakan anak-anak tunarungu dari SLB Negeri Tanjung Redeb.

Pementasan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang ekspresi kreatif yang mendorong partisipasi aktif anak-anak penyandang disabilitas dalam dunia seni dan budaya.

Ketua Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti mengatakan, program tersebut dirancang sebagai wadah inklusif yang memadukan seni teater dan literasi. Kegiatan ini mendapat dukungan melalui Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Tahun 2026.

Menurut Risna, sebelum tampil di atas panggung, para peserta mengikuti serangkaian workshop dan latihan intensif. Proses tersebut bertujuan membekali mereka dengan kemampuan dasar seni peran sekaligus memperkuat kepercayaan diri dalam mengekspresikan gagasan melalui pertunjukan teater.

“Kegiatan ini dirancang sebagai ruang ekspresi kreatif bagi anak-anak tunarungu jenjang SD, SMP hingga SMA dari SLB Negeri Tanjung Redeb. Tak hanya berfokus pada seni pertunjukan, program ini juga mengedepankan pendekatan inklusif dan literasi dalam proses pembelajaran,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).

Menariknya, cerita yang diangkat dalam pertunjukan tersebut berasal dari kekayaan budaya lokal Berau. Naskah teater mengisahkan tentang Kue Sarang Semut, salah satu makanan khas Pulau Derawan yang dikenal sebagai bagian dari warisan kuliner daerah.

Melalui pertunjukan ini, cerita rakyat dan kekayaan budaya lokal tidak hanya dibaca, tetapi juga dihidupkan kembali melalui gerak tubuh, ekspresi, dan peran yang dimainkan langsung oleh para peserta. Pendekatan tersebut menjadi salah satu upaya pelestarian budaya yang dikemas secara kreatif dan mudah dipahami oleh generasi muda.

Lebih dari sekadar hiburan, pertunjukan Waktunya Main juga mengajak masyarakat untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Penonton diajak memahami bagaimana anak-anak tunarungu mengekspresikan perasaan, gagasan, dan cerita melalui bahasa tubuh serta kreativitas mereka di atas panggung.

“Dari sini kita juga mengajak penonton untuk belajar memahami bagaimana dari sudut pandang anak-anak tunarungu,” pungkasnya. (TR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *