Bentangan Kawasan Karst Sangkulirang – Mangkalihat, merupakan bentangan alam karst terbesar di Indonesia, dengan segala warisan alamnya. Untuk itu, usulan penetapan Geopark Nasional, dianggap penting, sebelum diusulkan ke UNESCO.
—————————————————
Usulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional memasuki fase krusial. Setelah melalui proses verifikasi dokumen sejak tahun 2025 lalu, kawasan yang membentang di Kabupaten Kutai Timur dan Berau itu, akan menjalani verifikasi lapangan oleh Tim Verifikasi Geopark Nasional (TVGN) pada 6–10 Juli 2026 mendatang.
Tahapan tersebut, menjadi salah satu penentu sebelum pemerintah pusat mengambil keputusan terkait status Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Puji Harjanto mengatakan, verifikasi lapangan merupakan rangkaian lanjutan setelah evaluasi dokumen yang dilakukan sejak Oktober 2025.
“Verifikasi lapangan ini merupakan tahapan penting, karena tim akan melihat langsung kondisi di lapangan dan menilai kesiapan geopark yang diusulkan,” kata Puji usai Seminar Dukungan Para Pihak terhadap Penetapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Hotel Mesra Internasional Samarinda, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, tim verifikator dari unsur Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Hasanuddin. Selain itu, proses penilaian juga akan didampingi tim pengamat dari Pusat Survei Geologi dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Puji menjelaskan, kawasan yang diusulkan memiliki luas lebih dari 2 juta hektare atau sekitar 22 ribu kilometer persegi. Di dalamnya terdapat 26 situs warisan geologi, 13 situs keanekaragaman hayati, dan 7 situs warisan budaya yang tersebar di Kabupaten Kutai Timur dan Berau.
Luas kawasan tersebut, membuat tim verifikator tidak mungkin mengunjungi seluruh lokasi yang masuk dalam usulan geopark. Oleh karena itu, pengelola telah menyiapkan sejumlah geosite prioritas yang dianggap mampu merepresentasikan karakter utama kawasan.
“Kami memilih lokasi-lokasi yang dapat mewakili kekuatan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, karena waktu verifikasi lapangan hanya lima hari,” ujarnya.
Rute verifikasi pun, direncanakan dimulai dari Sangatta menuju Kaliorang dan Karangan. Salah satu lokasi yang akan dikunjungi adalah Gua Mengkuris yang dikenal memiliki lukisan tapak tangan prasejarah.
Setelah itu, daya tarik Tangga Bidadari di Kaliorang juga bakal menjadi lokasi peninjauan. Tak hanya itu, Tim juga akan meninjau sejumlah kawasan pesisir di Berau, seperti Bidukbiduk, Labuan Cermin, hingga Teluk Sumbang yang menjadi bagian dari bentang alam geopark.
Adapun, Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat sendiri merupakan salah satu bentang alam karst terbesar di Indonesia. Kawasan ini menyimpan gua-gua prasejarah, sistem sungai bawah tanah, serta berbagai kekayaan geologi yang memiliki nilai ilmiah tinggi.
Selain aspek geologi, verifikasi juga akan melihat keterkaitan antara konservasi, aktivitas masyarakat, dan pengembangan wisata yang tumbuh di kawasan tersebut.
Puji mengatakan, sebagian besar aktivitas pendukung geopark sebenarnya telah berjalan di tingkat masyarakat. Sejumlah kelompok sadar wisata dan kegiatan berbasis masyarakat telah berkembang di berbagai lokasi yang masuk dalam kawasan geopark.
“Sebenarnya kegiatan di lapangan sudah ada. Kelompok sadar wisata sudah berjalan, aktivitas wisata juga sudah berjalan. Sekarang yang kami lakukan adalah merangkai semuanya dalam identitas Geopark Sangkulirang-Mangkalihat,” sebutnya.
Menjelang verifikasi, pengelola juga memperkuat identitas kawasan melalui pemasangan papan informasi, penanda lokasi, dan berbagai materi edukasi yang menjelaskan hubungan setiap geosite dengan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
“Yang perlu ditambah sekarang lebih kepada branding dan pengenalan. Misalnya papan informasi, penanda kawasan, serta pemahaman masyarakat agar kegiatan yang ada terlihat sebagai bagian dari Geopark Sangkulirang-Mangkalihat,” ujar Puji.
Setelah verifikasi lapangan selesai, hasil penilaian akan dibahas dalam forum lintas sektor sebelum diputuskan pemerintah pusat. Jika memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan, Sangkulirang-Mangkalihat akan menyandang status Geopark Nasional.
Status tersebut menjadi langkah awal menuju target yang lebih besar, yakni pengusulan sebagai UNESCO Global Geopark.
“Tujuan kita bukan hanya Geopark Nasional. Setelah itu kita ingin melangkah menuju UNESCO Global Geopark,” pungkas Puji. (MAYANG SARI/ARIE)












