Kasus HIV di Bulungan Meningkat

Kepala Dinas Kesehatan Bulungan, Imam Sujono-muhammad efendi/disway kaltim

Jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir.

Dinas Kesehatan Bulungan mencatat, kasus baru HIV/AIDS bertambah dari 36 kasus pada 2024 lalu, menjadi 45 kasus sepanjang 2025.

Kepala Dinas Kesehatan Bulungan, Imam Sujono, mengatakan angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya, karena HIV merupakan penyakit yang kerap tidak terdeteksi sejak dini.

“Kalau dilihat dari jumlah, HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat mungkin hanya sebagian, tetapi sebenarnya bisa lebih banyak apabila dilakukan skrining secara menyeluruh,” ujar Imam, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, HIV termasuk penyakit yang tidak selalu menunjukkan gejala sehingga masyarakat perlu meningkatkan kesadaran, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

“HIV ini tidak seperti penyakit yang bisa langsung terlihat. Karena itu, deteksi dini menjadi sangat penting, agar masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya dan mendapatkan penanganan lebih cepat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bulungan, Rustam Iwandi, mengatakan pihaknya terus melakukan edukasi melalui sekolah, kampus, organisasi masyarakat hingga lingkungan warga.

Ia menilai masih terdapat kesalahpahaman di tengah masyarakat mengenai cara penularan HIV yang memicu munculnya stigma terhadap orang dengan HIV.

“Masih ada informasi yang keliru. Misalnya, HIV bisa menular hanya karena berdekatan atau berinteraksi biasa. Ini perlu diluruskan, agar tidak menimbulkan stigma terhadap orang dengan HIV,” ujarnya.

Rustam menjelaskan, penularan HIV terjadi melalui mekanisme tertentu seperti kontak darah, penggunaan jarum yang tidak aman, serta penularan dari ibu kepada bayi.

Selain sosialisasi, masyarakat yang ingin mengetahui status HIV juga dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan yang tersedia di puskesmas maupun rumah sakit dengan jaminan kerahasiaan pasien.

“Masyarakat yang ingin memeriksakan diri tidak perlu khawatir. Layanan tersedia dan kerahasiaan pasien tetap menjadi prioritas,” pungkasnya. (Muhammad Efendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *