KASUS kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Berau menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Satreskrim Polres Berau, tercatat 17 kasus terjadi sejak Januari hingga Mei 2026.
Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menyatakan keprihatinannya atas tingginya angka tersebut. Menurutnya, kasus kekerasan terhadap kelompok rentan tidak boleh dianggap sekadar statistik, melainkan menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat perlindungan terhadap anak dan perempuan.
“Angka 17 kasus hingga Mei ini sangat memprihatinkan dan menjadi tamparan keras bagi kita semua. Di balik angka tersebut ada korban yang harus menanggung trauma dan dampak psikologis yang tidak ringan,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Elita menilai data yang tercatat oleh kepolisian kemungkinan hanya sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya terjadi. Ia meyakini masih ada korban yang memilih tidak melapor karena rasa takut, malu, atau tekanan dari lingkungan sekitar.
Karena itu, Komisi I DPRD Berau meminta Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau lebih aktif melakukan pencegahan melalui sosialisasi dan edukasi hingga ke tingkat kampung.
Menurutnya, keluarga dan sekolah harus menjadi garda terdepan dalam mendeteksi potensi kekerasan sejak dini. Upaya pencegahan dinilai sama pentingnya dengan penegakan hukum terhadap para pelaku.
Elita juga mengapresiasi kinerja Satreskrim Polres Berau yang dinilai cepat dan profesional dalam menangani kasus-kasus yang dilaporkan. Namun, ia menegaskan bahwa penindakan hukum tidak akan cukup tanpa diimbangi langkah pencegahan yang berkelanjutan.
Selain itu, ia meminta pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap pemulihan korban. Layanan pendampingan psikologis dan trauma healing perlu dilakukan secara berkelanjutan agar korban dapat pulih dan kembali menjalani kehidupan dengan baik.
“Sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan perempuan,” pungkasnya. (TR)












